Eks Kanselir Jerman Angela Merkel. (Anadolu Agency)
Eks Kanselir Jerman Angela Merkel Desak Eropa Buka Dialog dengan Rusia
Willy Haryono • 9 September 2026 06:37
Bucharest: Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak negara-negara Eropa berupaya membuka kembali dialog dengan Rusia, meski ia mengecam keras Presiden Vladimir Putin atas invasi ke Ukraina.
Merkel mengatakan tidak ada pembenaran atas keinginan Putin untuk mengembalikan Rusia menjadi sebuah kekaisaran.
"Tidak ada pembenaran sama sekali untuk gagasan Putin tentang memulihkan sebuah kekaisaran yang telah runtuh," kata Merkel dalam wawancara dengan stasiun televisi Romania Pro TV yang dilakukan pekan lalu dan ditayangkan saat kunjungannya ke Bucharest untuk mempromosikan memoarnya.
Merkel mengatakan keputusan Putin menyerang Ukraina pada Februari 2022 akan selamanya melekat pada namanya. "Langkah yang dia ambil pada Februari 2022, ketika menyerang Ukraina, akan selamanya dikaitkan dengan namanya," ujarnya, dilansir dari Anadolu Agency, Rabu, 9 September 2026.
"Dia menghancurkan tatanan yang telah dibangun kembali dengan susah payah setelah Perang Dunia II," lanjut Merkel.
Namun, Merkel menegaskan kritik terhadap Putin tidak berarti Eropa harus menutup pintu komunikasi dengan Rusia.
"Dan Rusia tetap merupakan negara yang dengannya kita harus mencoba membuka kembali dialog. Tetapi fakta bahwa dia melanggar prinsip-prinsip hukum tidak dapat diabaikan," katanya.
Merkel memimpin Jerman dari 2005 hingga 2021 dan menjadi kanselir dengan masa jabatan terlama pada era pascaperang setelah Helmut Kohl.
Selama memimpin Jerman, Merkel dikenal menggabungkan kritik terhadap kebijakan Moskow dengan keyakinan bahwa dialog dengan Kremlin tetap diperlukan.
Ia menjadi salah satu pemimpin Barat yang paling sering berkomunikasi dengan Kremlin, termasuk melalui percakapan telepon dengan Putin. Merkel juga berulang kali menegaskan bahwa konflik di Ukraina timur hanya dapat diselesaikan melalui jalur politik.
Pernyataan terbaru Merkel menunjukkan pendekatan yang pernah menjadi ciri kebijakan luar negerinya: mempertahankan tekanan dan kritik terhadap Rusia, tetapi pada saat yang sama menjaga saluran komunikasi agar tetap terbuka.
Seruannya disampaikan ketika perang Rusia-Ukraina masih berlangsung dan upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik kembali digencarkan oleh Amerika Serikat dan sejumlah pihak internasional.
Baca juga: Trump Desak Rusia Segera Akhiri Perang Ukraina, Kremlin: Putin Setuju