Kolaborasi BUMN dan BUMS Mendorong Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia

Ilustrasi alutsista. Foto- Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah

Kolaborasi BUMN dan BUMS Mendorong Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia

Achmad Zulfikar Fazli • 21 January 2026 11:26

Jakarta: Kolaborasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) dinilai mampu menciptakan kemandirian industri pertahanan di Indonesia, yang meliputi senjata ringan seperti senapan serbu dan pistol. Apalagi, industri pertahanan Indonesia telah mumpuni dalam melakukan produksi, sehingga tak perlu lagi melakukan impor.

Salah satu tonggak kemandiriannya, yakni PT Pindad (Persero) sebagai BUMN industri pertahanan utama telah mengembangkan dan memproduksi berbagai pistol dan senapan serbu yang memenuhi kebutuhan TNI/Polri. 

Eks Wakil Menteri Pertahanan, M. Herindra, mengusulkan impor peluru kaliber kecil, pistol, dan senapan buatan luar negeri dihentikan karena industri pertahanan dalam negeri mampu menyuplai kebutuhan tersebut. PT Pindad sudah mampu memproduksi peluru-peluru kaliber kecil misalnya yang berukuran 5,56 mm dan 7,62 mm.

“Setop kalau perlu, saya sampaikan end user (pengguna akhir/pembeli) saya lihat izin impor lagi, kaliber 5,56 mm, 7,62 mm, masa sih kita tidak bisa (membeli dari dalam negeri)? Kalau untuk pasukan khusus boleh lah,” kata Herindra dilansir pada Selasa, 20 Januari 2026.

Menurut dia, perlu dikembangkan pembelian produk pertahanan, seperti peluru dan pistol buatan dalam negeri. Hal ini sebagai upaya membangun kemandirian industri pertahanan.

“Kita berharap pistol G2 (buatan Pindad) mau dipakai Filipina, (itu dapat terwujud) kalau kita pakai, nanti (mereka) baru pakai SS1 dan SS2, anggota kita sudah banyak yang pakai dan beberapa kali memenangkan turnamen, sehingga mendapatkan kredit poin,” kata Herindra.
 

Baca Juga: 

Hilirisasi Jadi Fondasi Penguatan Industri Alutsista


Upaya kemandirian di bidang pemeliharaan juga ditunjukkan melalui peningkatan kapasitas fasilitas perawatan TNI dan BUMN industri pertahanan, seperti PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memperkuat layanan maintenance, repair, overhaul (MRO) untuk pesawat angkut dan helikopter TNI, sehingga perawatan berkala dapat dilakukan domestik. 

PT PAL Indonesia juga telah mendapatkan transfer teknologi untuk perawatan kapal perang, termasuk kapal selam hasil kerja sama, agar docking dan overhaul bisa ditangani di galangan dalam negeri. 

Kerja Sama BUMN dan BUMS


Pemerintah mendorong kolaborasi antara BUMN dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) pertahanan dalam upaya memastikan siklus hidup alutsista dari pengadaan, operasional, hingga perawatan bisa ditangani industri dan SDM nasional.

Kehadiran pihak swasta menjadi bagian dari rantai pasokan lokal bagi BUMN pertahanan, seperti Pindad. Sebagai contoh, PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) menjalin Letter of Intent (LoI) dengan PT Pindad untuk pengadaan 100 pucuk pistol produksi Pindad.

Hal ini menunjukkan kolaborasi antar industri dalam negeri untuk saling mendukung kemandirian alutsista dan komponen pendukungnya.

"Kami telah mengantongi lisensi dari Kementerian Pertahanan untuk memproduksi komponen senjata, selongsong dan proyektil amunisi, serta komponen presisi untuk pesawat terbang, kapal, dan kendaraan tempur," jelas Direktur Operasi PT NKRI, Agus Prihanto.
 
Baca Juga: 

Menhan Sjafrie Dorong Kerja Sama Teknologi Pertahanan Indonesia–Turki


Agus menuturkan kedua pihak berperan sebagai produsen komponen dan sub-assembly pertahanan dalam negeri. Kemudian, fokus memproduksi komponen senjata dan amunisi serta bagian-bagian presisi untuk berbagai platform (darat, laut, udara). 

"Kami juga membantu memenuhi kebutuhan suku cadang lokal untuk Pindad, PT DI, PT PAL, dan perusahaan pertahanan lain tanpa harus mengimpor. Dengan modal dan tenaga ahli dalam negeri," kata dia.

Kolaborasi semacam ini mempercepat inovasi alutsista lokal dan memperluas kapasitas industri secara menyeluruh.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)