Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin
Rupiah Melemah Tipis, Bertengger di Rp16.958 per USD
Eko Nordiansyah • 21 January 2026 09:09
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari kembali mengalami pelemahan. Mata uang Garuda tak berdaya meski dolar AS juga mengalami tekanan akibat situasi global.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 21 Januari 2026, rupiah berada di level Rp16.958 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah dua poin atau setara 0,01 persen dari Rp16.956 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.976 per USD. Rupiah melemah 46 poin atau 0,27 persen dari Rp16.930 per USD pada pembukaan perdagangan kemarin.
(1).jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Rupiah fluktuatif cenderung melemah
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak fluktuatif hari ini. Namun, rupiah berisiko ditutup melemah di kisaran Rp16.950-Rp16.980 per dolar AS.Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang mempertahankan tuntutannya untuk Greenland. Ia tidak mengungkapkan apakah ia akan mengerahkan militer untuk pulau tersebut.
"Kekhawatiran akan intervensi militer AS meningkat pada Januari setelah Washington melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Trump kini menuju Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, di mana Presiden AS kemungkinan akan bertemu dengan beberapa pemimpin Eropa," tutur Ibrahim.
Selama akhir pekan, kekhawatiran akan perang dagang meningkat setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai.
Uni Eropa (UE) dan Inggris tampaknya siap untuk membalas. UE dilaporkan sedang mempersiapkan tarif balasan hingga 93 miliar euro untuk barang-barang AS dan juga mempertimbangkan untuk membatasi akses perusahaan Amerika ke pasar Eropa.
Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027. IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1 persen, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 yang tumbuh 5,0 persen. Proyeksi terbaru ini juga merevisi ke atas ramalan sebelumnya di Oktober 2025.
Proyeksi untuk 2026 lebih tinggi 0,2 persen poin dan untuk 2027 lebih tinggi 0,1 pesen. Revisi ke atas ini beriringan dengan laju pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 yang naik prospek pertumbuhan menjadi 3,3 persen, dari sebelumnya hanya 3,1 persen Oktober 2025.