Langkah Kemenhut Perkuat Ranger di 13 Taman Nasional Didukung

Ilustrasi taman nasional. Foto: MI/Denny S

Langkah Kemenhut Perkuat Ranger di 13 Taman Nasional Didukung

M Sholahadhin Azhar • 10 July 2026 18:33

Jakarta: Langkah Kementerian Kehutanan memperkuat ranger atau petugas lapangan kehutanan di 13 taman nasional didukung. Implementasi kebijakan oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni itu dinilai berpihak pada pegiat konservasi.

"WWF-Indonesia menyambut baik penambahan petugas lapangan kehutanan (forest ranger) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dan dilakukan pada era kepemimpinan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni," kata Ketua WWF Indonesia, Aditya Bayunanda, dalam keterangan yang dikutip Jumat, 10 Juli 2026. 

WWF Indonesia menilai kebijakan tersebut menjadi momentum penting untuk meningkatkan perlindungan hutan sekaligus menjaga habitat satwa liar di Indonesia. Aditya Bayunanda mengatakan, penambahan forest ranger yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan dijalankan pada era kepemimpinan Raja Juli Antoni merupakan langkah yang telah lama dinantikan oleh komunitas konservasi.

"Penambahan forest ranger ini sudah sangat ditunggu-tunggu bagi kami yang bergerak di bidang konservasi alam, karena sebelumnya ranger sangat kurang, sehingga kawasan-kawasan yang memiliki nilai kehati tinggi rawan terhadap perambahan, illegal logging, dan perburuan," kata Aditya.

Dia mencontohkan taman nasional di Aceh, dengan kawasan hutan sekitar 3,5 juta hektare yang hanya diawasi oleh 32 petugas penjaga hutan. Menurut Aditya, angka ini sangat tidak rasional.

"Satu orang ranger idealnya mengawasi paling tinggi 1.000 hektar," kata Aditya.
 


Menurut Aditya, penambahan jumlah petugas lapangan menjadi 70.000 personel memberikan harapan baru terkait penjagaan sekitar 125 juta hektare kawasan hutan Indonesia yang menjadi habitat berbagai spesies endemik. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan jumlah personel perlu diiringi dengan penguatan kapasitas dan dukungan operasional agar pengawasan hutan berjalan secara optimal.


Ilustrasi taman nasional. Foto: MI/Denny S

"Namun demikian, aspek kualitas (mental model, skill, dll), sumber daya operasionalnya (peralatan, perlengkapan, sarana mobilitas, teknologi, dll), kesejahteraan dan jaminan keselamatan kerja juga harus ditingkatkan seiring peningkatan jumlahnya. Sehingga dapat menjaga hutan secara optimal,” kata Aditya.

WWF Indonesia juga menyatakan dukungannya terhadap langkah Raja Juli Antoni yang memulai penguatan petugas lapangan di 13 taman nasional yang menjadi proyek percontohan inovasi pembiayaan pengelolaan taman nasional. Aditya menilai kebijakan tersebut dapat menjadi salah satu program prioritas yang mempercepat penguatan sistem pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia.

Selain penambahan personel, WWF Indonesia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari upaya memperkuat perlindungan kawasan konservasi. Salah satunya melalui revitalisasi kurikulum pendidikan forest ranger.

"Salah satunya dengan memperkuat kembali Nature Conservation School. Selain akan berdampak langsung terhadap kelestarian ekosistem hutan, hal ini juga akan meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata internasional dalam pengelolaan hutan, khususnya kawasan konservasi,” ujar Aditya.

Menurut WWF Indonesia, kombinasi antara penambahan jumlah petugas, peningkatan kompetensi, dukungan sarana operasional, serta penguatan sistem pengelolaan kawasan konservasi akan menjadi modal penting dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia di tengah berbagai tantangan, seperti perambahan kawasan, pembalakan liar, dan perburuan satwa dilindungi.

(M Sholahadhin Azhar)