Dolar Mendekati Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Dolar Mendekati Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Ade Hapsari Lestarini • 31 August 2026 12:10

Hong Kong: Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dua pekan pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. Penguatan tersebut terjadi setelah pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memicu spekulasi kenaikan suku bunga pada September.

"Bank sentral AS memiliki pekerjaan yang harus dilakukan jika para pembuat kebijakan tidak mendapatkan keyakinan yang diperlukan, inflasi sedang bergerak turun menuju dua persen," ujar Warsh, dilansir Investing, Senin, 31 Agustus 2026.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu sinyal terkuat bahwa pengetatan kebijakan moneter masih dapat diperlukan untuk meredam tekanan inflasi.

Pasar kemudian meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 57 persen. Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga juga naik ke level tertinggi lebih dari satu bulan, yakni 4,33 persen.

"Pembelaan Warsh terhadap target inflasi telah mengurangi hambatan utama bagi dolar AS dan mengalihkan kembali fokus ke fundamental ekonomi," kata Ahli Strategi Valuta Asing OCBC Sim Moh Siong.

Menurut dia, pernyataan tersebut membantu memulihkan kredibilitas The Fed sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap penurunan nilai dolar AS.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis. Laporan nonfarm payrolls pada Jumat dan data inflasi konsumen pekan depan akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed menjelang pertemuan September.

Euro naik tipis 0,1 persen menjadi USD1,1591, sedangkan pound sterling relatif stabil di USD1,3539. Kedua mata uang tersebut masih berada di jalur untuk mencatatkan penguatan bulanan selama dua bulan berturut-turut.

Indeks dolar yang mengukur kinerja mata uang AS terhadap enam mata uang utama turun tipis ke level 99,6. Pada Jumat, indeks tersebut melonjak 0,6 persen dan mencapai level tertinggi sejak 17 Agustus.

Meski demikian, indeks dolar masih mencatatkan penurunan bulanan selama dua bulan berturut-turut. Pergerakan tersebut terjadi setelah rencana pembelian kembali US Treasury pada awal bulan sempat memicu kembali perdagangan yang mengantisipasi pelemahan dolar.


Ilustrasi. Foto: dok MI.
 

 

Permintaan dolar didukung harga minyak


Permintaan terhadap dolar juga mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak pada Senin. Harga minyak Brent naik hampir dua persen setelah pasukan AS menyerang Pulau Larak milik Iran pada Minggu, menurut seorang pejabat AS.

Serangan tersebut disebut sebagai serangan pertama yang diketahui dilakukan AS terhadap Iran sejak akhir Juli. Perkembangan ini meningkatkan perhatian pasar terhadap risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi.

Selain dolar, pergerakan yen juga menjadi perhatian pasar. Yen kembali melemah hingga melampaui level 160 per dolar, yang dinilai meningkatkan risiko intervensi pemerintah Jepang.

Yen berada di level 160,01 per dolar setelah sebelumnya menembus level tersebut pada Jumat. Level 160 secara luas dipandang sebagai batas yang dapat meningkatkan spekulasi terhadap intervensi resmi untuk menopang mata uang Jepang.

Perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 yang diselenggarakan AS pada Senin dan Selasa. Investor akan mencermati potensi langkah terkoordinasi terkait Iran serta upaya meredakan kekhawatiran mengenai peningkatan utang dan imbal hasil obligasi AS.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Minggu mengatakan pergerakan yen belakangan ini masih cukup terkendali. Ia juga berharap Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda mengambil langkah yang tepat terkait kebijakan moneter.

"Secara historis, intervensi hanya efektif jika faktor-faktor fundamental bergerak ke arah yang sama," ujar Ekonom Senior Asia UBP Carlos Casanova.

Menurut dia, yen masih berada di bawah tekanan akibat selisih suku bunga yang lebar, suku bunga riil negatif, serta langkah hati-hati yang ditempuh Bank of Japan. Sementara itu, dolar Selandia Baru relatif stabil di USD0,5916, sedangkan dolar Australia naik tipis 0,1 persen menjadi USD0,7163.

(Ade Hapsari Lestarini)