Geger Kasus Kekerasan Anak, Ini 7 Tips Memilih Daycare yang Baik

ilustrasi: paudpedia.kemendikdasmen.go.id

Geger Kasus Kekerasan Anak, Ini 7 Tips Memilih Daycare yang Baik

Riza Aslam Khaeron • 27 April 2026 17:18

Jakarta: Polisi mengungkap tabir kasus dugaan tindakan kekerasan anak yang terjadi di daycare Little Aresha di Kota Yogyakarta. Kasus ini menjadi sorotan publi, terlebih jumlah korban yang cukup banyak.

Kasus terungkap usai aksi penggerebekan dilakukan oleh jajaran Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Yogyakarta di Taman Penitipan Anak (TPA) tersebut pada Jumat, 24 April 2026. Polisi mendapati sejumlah anak dalam keadaan memprihatinkan; beberapa di antaranya ditemukan terikat tanpa busana dan hanya memakai popok.

"Saya melihat langsung, menangis melihat anak saya diborgol, diikat," kata salah satu orang tua yang menitipkan anaknya di daycare Aresha, berinisial C, di Polresta Yogyakarta kepada Metrotvnews pada Sabtu, 25 April 2026.

Kondisi tersebut tentunya merupakan mimpi buruk para orang tua. Bijak memilih daycare menjadi penting diperthatikan para orang tua demi keamanan dan kenyamanan sang buah hati.

Berikut ini adalah beberapa tips yang dirangkum oleh tim Metrotvnews dalam memilih daycare:

1. Pastikan Daycare Memiliki Izin dan Status Lembaga yang Jelas

Daycare atau Taman Penitipan Anak (TPA) di Indonesia merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) jalur nonformal. Berdasarkan Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014, pendirian satuan PAUD (termasuk TPA) memiliki aturan yang ketat.

Orang tua wajib memastikan lembaga tersebut memiliki izin operasional, alamat yang jelas, pengelola yang bertanggung jawab, serta terdaftar di dinas terkait.
 

2. Periksa Rasio Pengasuh dan Jumlah Anak

Daycare yang aman tidak boleh terlalu padat. Semakin kecil usia anak, semakin intens pengawasan yang dibutuhkan.

Sebagai pembanding, National Association for the Education of Young Children (NAEYC) merekomendasikan standar rasio pengasuh dan anak asuhan agar berjalan optimal. Berikut adalah rincian rasio pengasuh dan batas maksimal jumlah anak dalam satu kelompok/kelas:
  • Bayi (Lahir – 15 bulan): 1 pengasuh maksimal menangani 4 anak, dengan jumlah anak dalam satu kelas tidak boleh lebih dari 8 orang.
  • Balita (12 – 36 bulan): 1 pengasuh maksimal menangani 6 anak, dengan kapasitas maksimal satu kelas adalah 12 anak.
  • Prasekolah (30 bulan – 5 tahun): 1 pengasuh maksimal menangani 10 anak, dengan kapasitas maksimal satu kelas adalah 20 anak.
  • Taman Kanak-Kanak (Kindergarten): 1 pengasuh maksimal menangani 12 anak, dengan kapasitas maksimal satu kelas adalah 24 anak.
  • Usia Sekolah (TK – Kelas 3 SD): 1 pengasuh maksimal menangani 15 anak, dengan kapasitas maksimal satu kelas adalah 30 anak.

3. Tinjau Latar Belakang dan Kompetensi Pengasuh

Pengasuh harus memahami prinsip pengasuhan anak secara menyeluruh, bukan sekadar menjaga fisik, sehingga hal penting yang perlu divalidasi adalah kepemilikan sertifikasi pelatihan PAUD atau pengasuhan oleh para staf.
 
Baca Juga:
Mengenal Daycare, Tempat Penitipan Anak yang Disorot karena Kasus Kekerasan
 

4. Amati Interaksi Pengasuh dengan Anak


Ilustrasi TPA. (Dok. TPA Mekar Asih via paudpedia.kemendikdasmen.go.id)

Jangan hanya terpaku pada brosur atau konten media sosial. Datanglah langsung ke lokasi untuk mengamati bagaimana pengasuh berbicara dan merespons kebutuhan anak-anak di sana.
 

5. Jangan Tergiur Hanya karena Harga Murah

Biaya operasional daycare yang berkualitas memang tidak murah. Jika harga yang ditawarkan jauh di bawah standar pasar, orang tua patut waspada terhadap potensi pemotongan biaya pada sektor krusial seperti kualitas makanan, jumlah pengasuh, kebersihan, atau fasilitas keamanan.
 

6. Lakukan Kunjungan Mendadak secara Berkala

Daycare yang dikelola dengan baik akan selalu terlihat tertib, terlepas dari ada atau tidaknya jadwal kunjungan tamu. Kunjungan mendadak membantu Anda melihat realitas sehari-hari: bagaimana perlakuan staf terhadap anak dan apakah aktivitas berjalan sesuai dengan janji yang diberikan.
 

7. Peka terhadap Respons dan Perubahan Perilaku Anak

Meski anak belum mampu bercerita secara verbal, perubahan perilaku drastis—seperti menjadi lebih pendiam, trauma terhadap orang tertentu, atau sering menangis tanpa alasan—bisa menjadi sinyal awal adanya masalah di tempat penitipan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)