Tertinggi Sejak Juli, Harga Minyak Brent Tembus USD93,78 per Barel

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Tertinggi Sejak Juli, Harga Minyak Brent Tembus USD93,78 per Barel

Ade Hapsari Lestarini • 21 August 2026 07:47

New York: Harga minyak mentah dunia kembali menguat lebih dari dua persen di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait konflik AS-Iran dan gangguan aktivitas di sekitar Selat Hormuz.

Melansir Xinhua, Jumat, 21 Agustus 2026, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik USD2 atau 2,33 persen menjadi USD87,83 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober naik USD2,16 atau 2,36 persen menjadi USD93,78 per barel di bursa ICE Futures Exchange London. Kedua harga tersebut merupakan level tertinggi sejak 24 Juli 2026.

Kenaikan harga minyak turut meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan prospek suku bunga, sehingga menambah tekanan terhadap pasar saham.


Ilustrasi alat pengambil minyak. Foto: Magnific.
 

 

Wall Street anjlok


Di sisi lain, bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak mentah menekan sentimen pasar di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 703,84 poin atau 1,32 persen menjadi 52.759,21. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 66,82 poin atau 0,87 persen menjadi 7.641,16 dan Nasdaq Composite melemah 263,92 poin atau satu persen menjadi 26.067,17. Data penutupan ketiga indeks tersebut juga dikonfirmasi oleh Associated Press.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor barang kebutuhan pokok konsumen dan kesehatan mencatat penurunan terbesar, masing-masing 1,93 persen dan 1,89 persen.

Sektor energi dan real estat menjadi dua sektor yang menguat, masing-masing 0,38 persen dan 0,15 persen.

Dinamika pasar obligasi tetap menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali meningkat setelah sebelumnya sempat turun menyusul keputusan Departemen Keuangan AS memperbesar program pembelian kembali obligasi jangka panjang.

(Ade Hapsari Lestarini)