Yair Golan Sebut Kebijakan Buruk Netanyahu Bebani Tentara Israel di Lapangan

Yair Golan mengkritik kebijakan Benjamin Netanyahu yang dinilai membebani tentara Israel. (Anadolu Agency)

Yair Golan Sebut Kebijakan Buruk Netanyahu Bebani Tentara Israel di Lapangan

Willy Haryono • 27 July 2026 14:27

Tel Aviv: Pemimpin oposisi Israel Yair Golan menilai tentara Israel di lapangan terpaksa harus menanggung dampak dari kebijakan buruk dan "ceroboh" pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Pernyataan itu disampaikan dua hari setelah serangan pemukim Israel yang didukung militer terhadap Kota Tal, dekat Nablus, di Tepi Barat yang diduduki.

Golan, yang juga menjabat Ketua Partai The Democrats, mengatakan kebijakan Netanyahu, termasuk pembebasan warga Yahudi ultra-Ortodoks dari wajib militer serta maraknya apa yang ia sebut sebagai "terorisme Yahudi," telah memberikan beban besar bagi militer Israel.

"Pemerintahan Netanyahu, Bezalel Smotrich, dan Itamar Ben-Gvir telah meninggalkan tentara Israel di Tepi Barat yang diduduki," ujar Golan, seperti dikutip TRT World, Senin, 27 Juli 2026.

Ia juga menegaskan akan berupaya menggantikan Netanyahu melalui pemilihan umum. "Netanyahu, kami akan datang untuk menggantikan Anda dalam pemilu," katanya.

Sehari sebelumnya, melalui unggahan di platform X, Golan memperingatkan bahwa pemerintahan Netanyahu telah mengubah Tepi Barat yang diduduki menjadi "tong mesiu" yang mengancam keamanan Israel.

Menurutnya, Netanyahu bersama Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir sengaja menciptakan "situasi yang eksplosif" di wilayah tersebut.

Golan menilai para pemukim ekstremis selama berbulan-bulan secara sistematis memicu gesekan, meningkatkan ketegangan, serta menyeret militer Israel dan negara itu menuju konfrontasi yang lebih luas.

Pada Jumat (24/7), pemukim Israel yang didukung militer menyerang Kota Tal dan menewaskan empat warga Palestina. Dalam bentrokan yang sama, dua warga Israel juga tewas akibat penembakan, menurut sumber Palestina dan Israel.

Setelah insiden tersebut, militer Israel mengepung Kota Nablus dan sejumlah wilayah di sekitarnya, melakukan penggerebekan serta penangkapan massal, dan mengumumkan persiapan operasi militer berskala besar di seluruh Tepi Barat yang diduduki.

Berdasarkan data resmi Palestina, sejak Oktober 2023 sedikitnya 1.182 warga Palestina dilaporkan tewas di Tepi Barat akibat operasi militer Israel dan serangan pemukim. Selain itu, ribuan orang dilaporkan terluka dan sekitar 24.000 lainnya telah ditahan. (Keysa Qanita)

Baca juga:  Netanyahu Akan Tetap Hadiri Sidang PBB Meski Ada Ancaman Penangkapan

(Willy Haryono)