Muktamar NU Diharapkan Melahirkan Pemimpin yang Mampu Bawa Perubahan

Pengasuh Pondok Pesantren Wali Salatiga, Jawa Tengah, KH Anis Maftuhin. Foto: Istimewa.

Muktamar NU Diharapkan Melahirkan Pemimpin yang Mampu Bawa Perubahan

Arga Sumantri • 8 August 2026 15:01

Jakarta: Pengasuh Pondok Pesantren Wali Salatiga, Jawa Tengah, KH Anis Maftuhin, menyerukan agar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum perubahan dan ruang terbuka bagi seluruh kader untuk menyampaikan gagasan terbaik bagi masa depan organisasi Pengurus Besar NU (PBNU). Muktamar akan digelar di Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.

Menurut Anis, warga NU di tingkat bawah memiliki aspirasi sederhana, yakni agar para muktamirin memilih calon pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan dan menyelesaikan berbagai persoalan yang masih terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama.

“Kami membawa aspirasi teman-teman di bawah kepada para muktamirin. Aspirasi kami sederhana, mari memilih calon yang benar-benar mampu membawa perubahan. Masih banyak persoalan di tubuh NU yang belum diselesaikan,” kata Anis dalam keterangan yang dikutip Sabtu, 8 Agustus 2026.

Ia menilai, masih terdapat sejumlah aturan dalam organisasi yang perlu dievaluasi dan diperbaiki. Namun, menjelang muktamar, energi organisasi justru banyak tersedot pada perdebatan mengenai siapa yang boleh atau tidak boleh menjadi calon pengurus.

“Yang selalu diperdebatkan hingga menjelang muktamar hanyalah soal siapa yang boleh menjadi calon pengurus. Energi kita habis di situ. Sementara urusan jam'iyah dan jamaah justru kurang mendapatkan perhatian,” ujarnya.

Anis meminta seluruh pihak tidak bersikap fobia terhadap latar belakang calon tertentu, termasuk mereka yang memiliki pengalaman sebagai politikus. Menurutnya, yang harus menjadi ukuran utama adalah kapasitas, integritas, gagasan, dan kemampuan calon dalam memimpin organisasi.

"Kalau memang nanti terpilih dan harus mundur dari jabatan politiknya, ya tinggal mundur. Selesai. Itu bukan persoalan besar," ungkap dia.

Anis mengingatkan dalam sejarah NU, proses pemilihan kepemimpinan organisasi memiliki dinamika yang beragam. Ia menyebut dahulu di tingkat kampung, pemilihan ketua NU dilakukan melalui proses panjang dan penuh musyawarah. Bahkan, dalam sejarah NU juga pernah dikenal mekanisme one man one vote.

"Semua itu menunjukkan bahwa yang terpenting adalah bagaimana calon ketua benar-benar memahami kebutuhan organisasi hari ini," katanya.

Nahdlatul Ulama. Dok Medcom.id.

Ia juga menyoroti dinamika menjelang muktamar yang berpotensi menguras energi warga NU. Anis berharap jangan sampai proses organisasi hanya dipengaruhi oleh kepentingan segelintir elite.

Ia menawarkan agar penjaringan calon pemimpin NU dibuka seluas-luasnya. Menurut dia, kader NU dari berbagai latar belakang, mulai dari kader internal, teknokrat, birokrat, akademisi hingga politikus, harus diberikan kesempatan yang sama untuk berkontestasi.

"Yang dinilai adalah ide, gagasan, dan kemampuan mereka membawa organisasi," tuturnya.

(Arga Sumantri)