Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
Investasi Energi Bersih Harus Terhubung dengan Kawasan Industri
Ade Hapsari Lestarini • 3 September 2026 10:16
Jakarta: Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai transisi energi menjadi salah satu agenda penting bagi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.
Menurut Esther, sejumlah negara mulai meningkatkan investasi pada energi bersih sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan dinamika global. Kondisi tersebut membuat pengembangan energi bersih semakin penting bagi Indonesia.
"Apalagi kalau kita lihat negara-negara menavigasi dinamika global ini dengan meningkatkan investasi energi bersih. Jadi energi bersih ini sudah menjadi keharusan," ujar Esther dalam pembukaan Sarasehan 100 Ekonom Indonesia bertema "Berlayar di Tengah Gelombang Global, Menjaga Daya Tahan Ekonomi Nasional" yang diselenggarakan Metro TV di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Namun, ia menilai investasi Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) di Indonesia masih relatif terbatas, yakni sekitar 7,2 persen.
Esther mengatakan riset Indef mendorong pengembangan Renewable Energy Zone atau kawasan energi terbarukan. Menurut dia, konsep tersebut perlu diintegrasikan dengan kawasan ekonomi khusus (special economic zone) agar pasokan dan kebutuhan energi dapat terhubung.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
EBT perlu dukung industrialisasi
Esther menilai pengembangan energi terbarukan tidak seharusnya ditempatkan semata sebagai agenda lingkungan. Energi bersih juga perlu dipandang sebagai bagian dari strategi investasi dan industrialisasi.
"Oleh karena itu, agenda Sarasehan 100 Ekonom ini memang ditempatkan bukan hanya semata-mata menjadi agenda lingkungan, tetapi juga menjadi agenda investasi dan industrialisasi yang menghubungkan energi terbarukan dengan kawasan industri, manufaktur, dan seterusnya," ujar dia.
Menurut dia, keterhubungan antara sumber energi terbarukan dengan kawasan industri dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mempertemukan sisi pasokan dan permintaan energi sekaligus mendukung pengembangan industri.
Di sisi lain, Esther menambahkan, Sarasehan 100 Ekonom tidak hanya menjadi forum pertemuan para ekonom, tetapi juga ruang untuk membahas dan menguji berbagai gagasan kebijakan ekonomi.
"Sarasehan 100 ekonom adalah ruang untuk mempertemukan gagasan, menguji kebijakan, merumuskan jalan keluar atas berbagai tantangan ekonomi," kata Esther.
Ia mengatakan pembahasan kebijakan ekonomi pada akhirnya perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.
"Sebab di balik angka pertumbuhan ekonomi, ada jutaan keluarga yang berharap kehidupannya menjadi lebih baik. Di balik angka investasi, ada harapan terciptanya lapangan pekerjaan lebih banyak dan berkualitas, dan di balik setiap kebijakan ekonomi ada implikasi masa depan untuk generasi muda yang akan datang," jelas dia.