Ilustrasi. Foto: Unplash
Emas dalam Momentum Bullish, Data Ekonomi AS Disorot
Eko Nordiansyah • 5 November 2026 14:35
Jakarta: Harga emas dunia atau XAUUSD berpeluang melanjutkan tren penguatan setelah berhasil menembus level resistance penting di USD4.075. Keberhasilan breakout tersebut menjadi sinyal positif bagi pergerakan logam mulia, terutama ketika dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mulai melemah.
"Meski demikian, harga emas berpotensi mengalami koreksi sementara sebelum melanjutkan kenaikan berikutnya," kata analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 November 2026.
Berdasarkan analisis teknikal Dupoin Futures, pada timeframe H4, emas telah berhasil melakukan breakout terhadap resistance sebelumnya di level USD4.075. Pergerakan ini menunjukkan adanya peningkatan kekuatan beli yang membuka peluang bagi harga untuk membentuk momentum bullish lanjutan.
Namun, Dupoin Futures menilai pelaku pasar perlu mencermati kemungkinan terjadinya pullback terlebih dahulu. Setelah menembus resistance, harga berpotensi kembali menguji area support terdekat di sekitar USD4.020 sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.
"Apabila level tersebut mampu dipertahankan, peluang bagi XAUUSD untuk melanjutkan penguatan akan tetap terbuka," ujar dia.
Momentum beli emas masih kuat
Dari sisi indikator teknikal, stochastic masih memperlihatkan pergerakan positif menuju area overbought. Kondisi ini mencerminkan momentum beli masih cukup kuat. Selain itu, konfirmasi bullish divergence turut memberikan indikasi positif terhadap prospek pergerakan harga emas.Ia mengungkapkan, kombinasi breakout resistance, momentum stochastic, dan sinyal bullish tersebut menjadi dasar Dupoin Futures dalam melihat peluang kenaikan lanjutan, dengan tetap memperhatikan respons harga ketika menguji support USD4.020.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Dari sisi fundamental, harga emas memperoleh dukungan setelah dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami pelemahan menyusul hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Mengacu pada rangkuman MarketScreener, penurunan kedua instrumen tersebut membuat emas kembali lebih menarik bagi investor.
"Harga emas spot bahkan berhasil bergerak di atas USD4.000 per troy ounce, didukung oleh turunnya imbal hasil Treasury serta meningkatnya ketidakpastian politik dan geopolitik," ungkap dia.
Pelemahan dolar AS umumnya memberikan ruang bagi emas untuk menguat karena membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi relatif lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya. Sementara itu, penurunan imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan bunga atau kupon.
Tekanan terhadap kenaikan harga emas
Meski demikian, Dupoin Futures juga mencermati prospek kenaikan harga emas masih menghadapi tantangan dari ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember, sehingga setiap perkembangan data ekonomi AS berpotensi memengaruhi arah dolar dan imbal hasil obligasi.Salah satu data yang menjadi perhatian utama investor adalah laporan ketenagakerjaan AS, khususnya Non-Farm Payrolls (NFP). Apabila data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dapat meningkat dan memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.
"Sebaliknya, data ketenagakerjaan yang kuat berpotensi memperkuat pandangan The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan ketat, sehingga dapat kembali menopang dolar AS dan menekan XAUUSD," kata Geraldo.
Dengan mempertimbangkan faktor teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures melihat prospek harga emas masih cenderung positif setelah breakout USD4.075. Area USD4.020 menjadi support penting yang perlu dipertahankan untuk menjaga peluang kenaikan selanjutnya.
"Sementara itu, perkembangan dolar AS, imbal hasil Treasury, dan data NFP akan menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan momentum bullish emas," jelas dia.