Ilustrasi MetroTV
9 Organisasi yang Berperan dalam Lahirnya Sumpah Pemuda
Putri Purnama Sari • 22 October 2026 14:47
Jakarta: Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ikrar tersebut menegaskan tekad para pemuda dari berbagai daerah untuk menyatukan cita-cita dalam satu identitas kebangsaan, yakni Indonesia.
Lahirnya Sumpah Pemuda tidak terlepas dari perkembangan berbagai organisasi pemuda pada awal abad ke-20. Organisasi-organisasi tersebut menjadi wadah bagi para pelajar dan pemuda untuk membangun komunikasi, memperluas wawasan kebangsaan, serta memperkuat persatuan di tengah keberagaman suku dan daerah.
Gerakan tersebut mencapai salah satu puncaknya melalui Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia, kini Jakarta. Kongres ini melahirkan ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Awal Gerakan Organisasi Pemuda
Memasuki awal abad ke-20, kesadaran kebangsaan mulai berkembang di kalangan pelajar dan kaum terpelajar Indonesia. Berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 menjadi salah satu tonggak perkembangan pergerakan nasional.Setelah itu, bermunculan organisasi pemuda yang menghimpun anggota berdasarkan daerah asal, seperti Jawa, Sumatra, Ambon, Sulawesi, dan Batak. Seiring berkembangnya pergerakan nasional, para pemuda mulai menyadari pentingnya memperluas kerja sama melampaui identitas kedaerahan.
Kesadaran tersebut mendorong terjalinnya komunikasi ant organisasi pemuda dan terselenggaranya kongres-kongres pemuda. Mengutip informasi dari laman KPU Kabupaten Yalimo, berikut sembilan organisasi yang berperan dalam perkembangan gerakan pemuda menuju Sumpah Pemuda. 1. Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI)
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) menjadi salah satu organisasi yang berperan penting dalam menggagas Kongres Pemuda II. Organisasi ini menghimpun pelajar dari berbagai daerah yang memiliki perhatian terhadap persoalan kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
PPPI mendorong para pemuda dari berbagai organisasi untuk berkumpul dan membahas pentingnya persatuan nasional. Dalam Kongres Pemuda II, Soegondo Djojopoespito dipercaya sebagai ketua panitia.
Kongres tersebut menjadi momentum penting bagi para pemuda untuk menegaskan komitmen terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia.
2. Jong Java
Jong Java berawal dari organisasi Tri Koro Dharmo yang didirikan pada 1915. Organisasi tersebut menghimpun pemuda, terutama kalangan pelajar, dengan perhatian terhadap pendidikan dan kebudayaan.
Dalam perkembangannya, sejumlah anggota menginginkan organisasi yang lebih terbuka bagi pemuda dari berbagai latar belakang. Pada 12 Juni 1918, Tri Koro Dharmo mengubah namanya menjadi Jong Java.
Organisasi ini bertujuan mempererat persatuan pemuda Jawa dan mengembangkan pendidikan serta kebudayaan. Dalam Kongres Pemuda II, R.M. Djoko Marsaid menjadi wakil ketua panitia.
Keterlibatan Jong Java menunjukkan perkembangan kesadaran para pemuda untuk membangun persatuan yang lebih luas di tengah gerakan kebangsaan.
3. Jong Sumatranen Bond
Jong Sumatranen Bond atau Jong Sumatra Bond merupakan organisasi yang menghimpun pemuda dari berbagai daerah di Sumatra. Organisasi ini menjadi wadah bagi para pelajar asal Sumatra untuk membangun persaudaraan dan meningkatkan kesadaran terhadap persoalan bangsa.
Salah satu tokoh penting yang berkaitan dengan organisasi ini adalah Mohammad Yamin. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang mendorong gagasan persatuan nasional dan berperan dalam Kongres Pemuda II.
Mohammad Yamin juga dikenal atas perannya dalam penyusunan rumusan ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Gagasannya menekankan pentingnya persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia.
4. Jong Ambon
Jong Ambon merupakan organisasi yang menghimpun pemuda asal Ambon dan wilayah Maluku. Organisasi ini menjadi salah satu wadah bagi pemuda daerah untuk memperluas pergaulan, mengembangkan pendidikan, dan berpartisipasi dalam gerakan pemuda.
Keterlibatan Jong Ambon dalam gerakan pemuda mencerminkan semakin luasnya dukungan terhadap persatuan nasional. Para pemuda dari berbagai daerah mulai membangun kerja sama untuk memperjuangkan cita-cita bersama sebagai bangsa Indonesia.
Salah satu tokoh asal Ambon yang kemudian dikenal dalam sejarah Indonesia adalah Johannes Leimena. Namun, jabatan dan keterlibatannya dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II perlu dipastikan kembali melalui sumber sejarah yang tepercaya.
5. Jong Celebes
Jong Celebes merupakan organisasi pemuda yang menghimpun pemuda asal Sulawesi. Organisasi ini berdiri pada 25 April 1919 dan bertujuan mempererat persaudaraan di antara pemuda dari wilayah tersebut.
Jong Celebes turut menjadi bagian dari perkembangan gerakan pemuda yang mendorong persatuan nasional. Keberadaan organisasi ini memperlihatkan bahwa semangat kebangsaan berkembang di berbagai wilayah Nusantara.
Salah satu tokoh yang dikaitkan dengan Jong Celebes dalam Kongres Pemuda II adalah R.C.L. Senduk atau Rumondor Cornelis Lefrand Senduk. Adapun jabatan yang disebutkan dalam sejumlah catatan mengenai susunan panitia perlu diverifikasi kembali sebelum dicantumkan sebagai fakta.
6. Jong Bataks Bond

Sumpah pemuda/Ilustrasi Medcom.id
Jong Bataks Bond merupakan organisasi yang menghimpun pemuda dari kalangan Batak. Organisasi ini menjadi wadah untuk mempererat persaudaraan, meningkatkan pendidikan, dan mendorong kemajuan masyarakat.
Seperti organisasi pemuda kedaerahan lainnya, Jong Bataks Bond berkontribusi terhadap perkembangan kesadaran kebangsaan di kalangan pemuda. Pertemuan dan interaksi antarkelompok membuka jalan bagi tumbuhnya gagasan persatuan yang melampaui asal daerah.
Amir Sjarifuddin merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional yang dikaitkan dengan Jong Bataks Bond. Ia juga dikenal dalam sejarah Kongres Pemuda II. Namun, penulisan jabatan sebagai bendahara panitia sebaiknya diperiksa kembali berdasarkan dokumen sejarah yang relevan. 7. Pemuda Kaum Betawi
Pemuda Kaum Betawi merupakan organisasi yang menghimpun pemuda Betawi di Batavia. Organisasi ini memperlihatkan keterlibatan pemuda setempat dalam perkembangan gerakan kebangsaan.
Batavia menjadi tempat berlangsungnya Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928. Pertemuan tersebut mempertemukan pemuda dari berbagai organisasi dan daerah untuk membahas pentingnya persatuan Indonesia.
Kehadiran organisasi pemuda dari lingkungan Betawi turut menggambarkan luasnya lingkungan sosial yang mendukung perkembangan gerakan pemuda di pusat pemerintahan Hindia Belanda tersebut.
8. Jong Islamieten Bond (JIB)
Jong Islamieten Bond (JIB) didirikan pada 1 Januari 1925 sebagai organisasi yang menghimpun pemuda Muslim. Organisasi ini memberikan ruang bagi para anggotanya untuk memperdalam pengetahuan keislaman sekaligus berpartisipasi dalam perkembangan masyarakat.
JIB turut menjadi bagian dari dinamika gerakan pemuda pada masa pergerakan nasional. Keberadaannya menunjukkan bahwa identitas keagamaan dan semangat kebangsaan dapat berkembang berdampingan dalam perjuangan menuju Indonesia merdeka.
Salah satu tokoh yang disebut dalam kaitannya dengan organisasi ini dan Kongres Pemuda II adalah Johan Mahmud Tjaja. Adapun jabatan spesifiknya dalam kepanitiaan perlu dikonfirmasi kembali melalui sumber sejarah.
9. Jong Indonesia atau Pemoeda Indonesia
Jong Indonesia merupakan organisasi pemuda yang didirikan di Bandung pada 20 Februari 1927. Organisasi ini berupaya memperkuat gagasan persatuan nasional di kalangan pemuda dari berbagai suku dan daerah.
Dalam perkembangannya, nama Jong Indonesia berubah menjadi Pemoeda Indonesia pada Desember 1927. Perubahan tersebut mencerminkan semakin kuatnya orientasi gerakan pemuda terhadap identitas Indonesia.
Dalam Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia, Pemoeda Indonesia turut terlibat dalam gerakan yang memperkuat persatuan nasional. Sejumlah nama yang dikaitkan dengan organisasi ini antara lain Katjasoengkana yang berperan sebagai Pembantu II (Pemoeda Indonesia cab. Surakarta), Sarmidi Mangoensarkoro (Pemoeda Indonesia cab. Yogyakarta) dan Inoe Mertokoesoema (Pemoeda Indonesia cab. Bandung).
Persatuan Pemuda Menjadi Tonggak Sumpah Pemuda
Keterlibatan Pemoeda Indonesia memperlihatkan bahwa gagasan persatuan tidak hanya berkembang di organisasi yang berlandaskan daerah, tetapi juga di kalangan pemuda yang secara terbuka mengedepankan identitas Indonesia.Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 menjadi momentum bersejarah ketika para pemuda menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia.
Sumpah Pemuda kemudian menjadi simbol persatuan yang melampaui perbedaan suku, daerah, dan latar belakang. Semangat tersebut terus menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia hingga saat ini.
(Siti Nahdia Usman)