Keluarga Tak Percaya Rasya Fadilah Meninggal karena Alergi Obat

Ibunda almarhum Teuku Rasya Fadilah, mahasiswa baru Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh yang meninggal dunia. Metro TV

Keluarga Tak Percaya Rasya Fadilah Meninggal karena Alergi Obat

Metro TV • 30 September 2026 13:09

Lhokseumawe: Duka menyelimuti keluarga Teuku Rasya Fadilah, mahasiswa baru Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Rasya meninggal dunia pada Minggu sore, 27 September 2026. Keluarga menduga mahasiswa berusia 19 tahun tersebut mengalami kekerasan saat menjalani masa orientasi di kampus. Namun, dugaan tersebut masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

Suasana duka terlihat di kediaman Rasya di Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Senin, 28 September 2026.

Ibunda Rasya, Nurlaila, 47, tidak kuasa menahan kesedihan saat memandangi foto putra sulungnya tersebut. Ia juga terus memeluk foto Rasya yang menjadi anak pertama dari empat bersaudara.

Menurut Nurlaila, pihak medis sempat menghubunginya dan menyampaikan dugaan reaksi alergi obat yang dialami Rasya. Namun, keluarga mempertanyakan informasi tersebut setelah melihat kondisi tubuh Rasya.

"Anak saya cuma bisa minum paracetamol sama antasid. Karena dia enggak pernah minum obat lain," kata Nurlaila, Rabu, 30 September 2026.

Nurlaila mengaku melihat adanya memar atau lebam di sejumlah bagian tubuh putranya, mulai dari wajah, leher hingga bagian tubuh lainnya. Ia juga menyebut kondisi hidung Rasya terlihat seperti mengalami cedera.

Keluarga menilai dugaan alergi obat perlu diperjelas karena Rasya disebut tidak memiliki riwayat alergi dan jarang mengonsumsi obat.

Meski demikian, dugaan keluarga mengenai adanya kekerasan belum dapat dipastikan sebagai penyebab kematian. Polisi masih melakukan penyelidikan, sedangkan hasil pemeriksaan medis dan forensik menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab pasti kematian Rasya.
 


Keluarga Minta Kasus Diusut

Nurlaila berharap proses hukum dapat mengungkap seluruh rangkaian peristiwa yang dialami putranya sebelum meninggal dunia. Ia juga meminta pihak terkait mengusut dugaan kekerasan jika ditemukan indikasi pelanggaran terhadap Rasya.

Keluarga mengatakan Rasya dikenal sebagai anak yang baik, aktif, dan ceria. Sebelum melanjutkan pendidikan ke Poltekpel Malahayati, ia bersekolah di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe.

Sejak duduk di sekolah dasar, Rasya disebut pernah diarahkan untuk melanjutkan pendidikan di pesantren. Namun, ia memilih meneruskan pendidikan di Sekolah Sukma Bangsa.


Personel Satreskrim Polresta Banda Aceh saat melakukan penyelidikan terkait meninggalnya taruna Poltekpel Malahayati Aceh, di RSUDZA Banda Aceh, Minggu, 27 September 2026. (ANTARA/HO/Humas Polresta Banda Aceh)


Semasa bersekolah, Rasya pernah mendapat tugas dari gurunya untuk membuat paparan mengenai cita-cita. Saat itu, ia menyampaikan keinginannya menjadi perwira pelaut.

Cita-cita tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Rasya terus berusaha menempuh pendidikan hingga akhirnya diterima sebagai mahasiswa Poltekpel Malahayati.

Berdasarkan keterangan keluarga, Rasya mulai menjalani pendidikan di Poltekpel Malahayati pada 4 September 2026. Selama menjalani pendidikan, keluarga mengaku tidak berkomunikasi langsung dengan Rasya selama sekitar 22 hari. Hingga pada Minggu, 27 September 2026, siang, keluarga menerima kabar Rasya berada di rumah sakit.

Rasya kemudian meninggal dunia pada hari yang sama di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Keluarga kini menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui secara pasti kondisi dan rangkaian peristiwa yang dialami Rasya sebelum menjalani perawatan hingga akhirnya meninggal dunia. (Slamet Abdullah)

(Whisnu M)