Harga Emas Dunia Turun, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi. Foto: ICDX.

Harga Emas Dunia Turun, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Ade Hapsari Lestarini • 30 October 2026 08:22

New York: Harga emas dunia turun pada perdagangan Kamis karena ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve tetap tinggi menyusul rilis data ekonomi AS. Harga minyak dunia juga berbalik arah dalam sesi perdagangan yang fluktuatif, membuat para pelaku pasar logam mulia tetap waspada.

Melansir Investing, Jumat, 30 Oktober 2026, harga emas spot turun 1,4 persen menjadi USD4.009,85 per oz. Sementara emas berjangka melemah 0,3 persen menjadi USD4.021,25 per oz.

Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan utama dengan perolehan suara 10 banding 2; Gubernur Lisa Cook dan Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, lebih memilih kenaikan sebesar seperempat poin persentase.

Hasil ini sebagian besar telah diantisipasi, menyusul kenaikan suku bunga pertama oleh FOMC dalam lebih dari tiga tahun yang terjadi pada September.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pernyataannya setelah keputusan tersebut, menyoroti kekuatan ekonomi terkini serta komitmen bank sentral terhadap target inflasi tahunan sebesar dua persen.

Namun, ia tidak memberikan panduan ke depan (forward guidance) terkait suku bunga. Pasar kini secara luas memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan terakhir tahun ini di Desember.

"Sejak langkah kebijakan kami pada September, kita mulai melihat perubahan dalam kondisi keuangan dan kredit. Kondisi tersebut telah mengetat bagi sejumlah pelaku bisnis dan rumah tangga, seperti yang telah kita perkirakan. Para pelaku pasar kini menjadi lebih selektif dalam alokasi modal mereka," ujar Warsh.

"Meskipun kondisi keuangan secara keseluruhan lebih ketat, saya belum bisa menyebutnya sebagai kondisi yang benar-benar ketat. Namun secara umum, perkembangan ini mengarah pada pencapaian periode pertumbuhan ekonomi yang lebih panjang dan stabil, serta stabilitas harga," tambah pimpinan The Fed tersebut.


Ketua The Fed Kevin Warsh. Foto: Discovery Alert.

 

 

Menanti rangkaian data ekonomi AS


Warsh juga mencatat akan ada serangkaian data ekonomi yang dirilis menjelang pertemuan Desember, dan bank sentral berada dalam posisi untuk mengevaluasi data tersebut sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut.

Kamis menandai dimulainya gelombang data ekonomi, dengan para investor menerima data produk domestik bruto (PDB) AS untuk kuartal ketiga serta data inflasi penting untuk September.

PDB riil AS tumbuh 3,4 persen pada kuartal ketiga, menurut estimasi awal dari Biro Analisis Ekonomi (Bureau of Economic Analysis). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2,2 persen pada kuartal kedua dan melampaui ekspektasi para ekonom yang memprediksi pertumbuhan sebesar 3,2 persen.

Secara terpisah, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) utama, yang secara luas dianggap sebagai ukuran inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed), naik 0,5 persen secara bulanan (M/M) pada September, sementara PCE inti naik 0,3 persen.

Secara tahunan (Y/Y), PCE utama meningkat 3,6 persen, sedangkan PCE inti naik 3,1 persen. Keempat angka tersebut sejalan dengan estimasi; angka tahunan menunjukkan percepatan dibandingkan Agustus dan berada jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar dua persen.

Menurut kepala investasi untuk pendapatan tetap global di BlackRock,Rick Rieder, sikap sabar yang diambil The Fed merupakan "pendekatan yang tepat."

"Inflasi masih tinggi, namun pertanyaannya bukan sekadar apakah suku bunga harus dinaikkan lebih lanjut. Pertanyaannya adalah apakah suku bunga yang lebih tinggi benar-benar dapat mengatasi inflasi yang masih ada," ujar dia.

"Tantangannya adalah berbagai sektor dalam ekonomi, dan inflasi itu sendiri, bergerak dengan kecepatan yang sangat berbeda. Secara agregat, pertumbuhan tetap sangat tangguh, didukung oleh siklus investasi yang kuat. Namun, di balik itu, sektor-sektor ekonomi yang lebih sensitif terhadap biaya pinjaman justru merasakan tekanan yang jauh lebih besar," catat Rieder.

(Ade Hapsari Lestarini)