Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto saat meninjau lahan seluas 62,5 hektare di Desa Laroenai, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Selasa, 4 November 2025. Antara/Ho-Humas Mabes
Menhan Sjafrie Sebut Penertiban Tambang Nikel Ilegal Bukti Kehadiran Negara
Deny Irwanto • 6 November 2025 20:56
Morowali: Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Sjafrie Sjamsoeddin, memimpin langsung penertiban tambang nikel ilegal di Morowali, Sulawesi Tengah, Selasa, 4 November 2025.
Sjafrie didampingi Jaksa Agung ST Burhanuddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh, Kasum TNI Letjen Richard Taruli H. Tampubolon, dan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus).
"Fakta di lapangan kita melihat dari dekat kegiatan Satgas PKH dalam rangka penertiban kawasan hutan, khususnya di pertambangan yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan. Ini adalah kehadiran negara untuk melakukan penertiban terhadap semua kegiatan-kegiatan yang ilegal," kata Sjafrie di sela-sela peninjauan dikutip Kamis, 6 November 2025.
Baca Juga :
Satgas PKH Ambil Alih Lahan Tambang Ilegal 62,15 Hektare di Morowali
Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin saat pemasangan plang penguasaan kembali 62,15 hekatare lahan di kawasan hutan Desa Laroena, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Metrotvnews.com/Siti Yona
Dalam penertiban yang dikoordinasikan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) tersebut,
Menhan menyatakan penertiban ini merupakan wujud keseriusan dan kehadiran negara dalam menindak semua aktivitas ilegal.
Sjafrie juga menegaskan di samping menindak tegas tambang ilegal, pemerintah akan terus mendorong produksi oleh tambang-tambang nikel yang legal. Dia memastikan pemerintah dan aparat penegak hukum tidak akan pandang bulu dalam mengambil langkah tegas terhadap pelaku ilegal.
"Yang ilegal ini negara akan menegakkan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Kita tidak melihat latar belakang, kita tidak melihat dari mana, tapi kita melihat bahwa kepentingan nasional harus kita tegakkan, harus kita selamatkan," ujar Sjafrie.