Harga Minyak Brent Turun 0,6% ke USD97 per Barel

Ilustrasi. Unplash

Harga Minyak Brent Turun 0,6% ke USD97 per Barel

Gervin Nathaniel Purba • 7 November 2026 11:29

New York: Harga minyak mentah dunia terpantau menurun pada perdagangan Jumat, waktu setempat. Selama sepekan, patokan harga minyak mentah dunia hampir anjlok 17 persen. Para pelaku pasar pun mengevaluasinya dari dampak kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela di Amerika Serikat (AS).
 
Dikutip dari Investing, Sabtu, 7 November 2026, kontrak berjangka mentah Brent untuk pengiriman Januari, yang menjadi acuan harga minyak global turun 0,6 persen dan ditutup pada level USD97,75 per barel.
 
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember menyusut 0,2 persen. Ditutup pada level USD90,36 per barel.
 
Minyak mentah brent mengalami penurunan mingguan sebesar 16,9 persen. Sementara minyak WTI mengalami penurunan mingguan sebesar 13,2 persen hingga penurunan terbawah dalam sepekan sejak pertengahan April.
 
 
Para pedagang telah menakar implikasi dari kemenangan mutlak Partai Demokrat, yang memberi partai tersebut kendali atas kedua kamar di Kongres (DPR dan Senat). Berbagai spekulasi bermunculan mengenai apakah Partai Demokrat akan menggunakan pengaruh baru mereka untuk mendesak Presiden dari Partai Republik, Donald Trump, mencari jalan keluar atas perang Iran.
 
"Meskipun beralihnya kendali di DPR dan Senat AS sudah diperkirakan secara luas, keunggulan signifikan Partai Demokrat dalam pemilu sela memaksa dilakukannya penyesuaian ulang ekspektasi terkait Perang Iran. Singkatnya, mayoritas substansial di setiap kamar Kongres meningkatkan konsekuensi politik bagi Presiden Trump jika terus melanjutkan atau memicu eskalasi konflik yang secara umum tidak populer ini," kata Walt Chancellor, ahli strategi energi di Macquarie.


Harga Minyak Turun Lebih dari 8%, Brent ke USD95 per Barel

(Ilustrasi. Foto: Freepik.)

 
Menurut Chancellor, meskipun Trump masih memiliki kewenangan eksekutif yang besar untuk melancarkan serangan ke Iran, mengingat konstelasi baru di Kongres beserta wewenang anggaran yang melekat padanya, kemampuan Trump untuk mempertahankan upaya pencapaian tujuan strategis ini melemah.
 
"Sementara kerugian atas peluang lain yang menyertai tindakan tersebut makin meningkat. Dalam jangka sangat pendek, pemilu sela dapat mengubah perilaku dan dorongan bagi pihak pemerintah, tetapi hal itu tidak menghapus wewenang eksekutif Trump untuk melakukan aksi militer (dengan batasan-batasan tertentu)," ujarnya.
 
Berakhirnya konflik di Timur Tengah
 
Berakhirnya konflik di Timur Tengah, yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, dapat membuka kembali jalur pelayaran vital di wilayah tersebut.

Data pelayaran terbaru menunjukkan bahwa sebagian arus pasokan minyak keluar dari kawasan itu mulai pulih parsial, berkat pengawalan keamanan laut yang disediakan oleh militer AS, khususnya di Selat Hormuz.
 
Meski demikian, kapal-kapal tetap bersiaga terhadap potensi serangan di jalur perairan penting tersebut, yang dilewati oleh sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum perang meletus. Iran bertindak menutup selat tersebut tak lama setelah konflik dimulai.
 
Laporan mengenai serangan-serangan baru terhadap kapal tanker di Teluk Persia dan Selat Hormuz sempat mengerek naik harga minyak pada hari Kamis. Data dari United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (pusat pemantauan maritim Inggris) menunjukkan bahwa serangan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak masih terjadi mendekati rekor tertinggi.

(Gervin Nathaniel Purba)