Ilustrasi minyak mentah dunia. Foto: ICDX.
Harga Minyak Brent Naik ke USD98 per Barel, Ini Pemicunya
Ade Hapsari Lestarini • 6 November 2026 08:17
New York: Harga minyak mentah dunia terpantau menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat.
Melansir Xinhua, Jumat, 6 November 2026, minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember naik USD2,4 atau 2,72 persen menjadi USD90,52 per barel di New York Mercantile Exchange.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari naik USD3,67 atau 3,88 persen menjadi USD98,29 per barel di London ICE Futures Exchange.
Melansir Investing, harga minyak melanjutkan kenaikannya dalam perdagangan Asia pada Jumat, seiring dengan serangan baru terhadap kapal-kapal tanker di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Meski demikian, harga minyak tetap berada di jalur penurunan mingguan yang tajam seiring dengan penilaian ulang investor terhadap prospek konflik antara AS-Israel dengan Iran.
Di perdagangan Asia, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,7 persen menjadi USD91,14 per barel. Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup hampir empat persen lebih tinggi, sementara minyak mentah WTI naik 2,7 persen.
Pemulihan ini terjadi setelah penurunan drastis pada Rabu, saat kedua tolok ukur harga tersebut anjlok lebih dari delapan persen ke level penutupan terendah sejak 31 Agustus. Penurunan tersebut dipicu oleh hasil pemilihan paruh waktu AS yang sempat memunculkan harapan akan adanya upaya diplomatik baru untuk mengakhiri konflik.

Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga minyak diprediksi catat penurunan mingguan lebih dari 15%
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan akan mencatat penurunan mingguan lebih dari 15 persen. Sementara harga minyak mentah berjangka WTI diperkirakan turun 12 persen.
Pemulihan harga ini mencerminkan keraguan yang masih ada, tekanan politik akan segera menghasilkan kesepakatan yang langgeng atau pemulihan pengiriman minyak yang andal melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global.
Menurut United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), setidaknya lima kapal telah melaporkan insiden sejak Minggu. Frekuensi serangan ini mendekati rekor Oktober, yang mencatat 35 insiden yang melibatkan kapal.
Korps Garda Revolusi Islam menyatakan, dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah setelah mencoba melintasi rute yang tidak sah melalui Selat Hormuz. Arab Saudi juga mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya di dekat Yanbu, pusat ekspor minyaknya di Laut Merah, seiring dengan terus berlanjutnya serangan dari kelompok militan Houthi asal Yaman, yang berafiliasi dengan Iran, terhadap kerajaan tersebut.
Prospek geopolitik tetap tidak menentu menyusul pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat, di mana Partai Demokrat berhasil merebut kendali atas kedua majelis Kongres dari Partai Republik yang mengusung Presiden Donald Trump.