OJK Revisi Proyeksi Pertumbuhan Industri Jasa Keuangan 2026

Kantor OJK. Foto: Dok. MI

OJK Revisi Proyeksi Pertumbuhan Industri Jasa Keuangan 2026

Andika Fauzan Azhari • 6 November 2026 09:47

Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan penyesuaian atas proyeksi pertumbuhan terhadap beberapa industri jasa keuangan yang sudah ditetapkan pada awal tahun.

Keputusan perubahan ini disebabkan beberapa faktor. Misalnya, ketidakpastian global yang masih tinggi, berbagai konflik geopolitik yang memengaruhi tingginya harga energi, serta adanya kebijakan menahan suku bunga pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama oleh bank sentral (higher for longer).
 
"OJK juga melakukan adjustment atas proyeksi pertumbuhan beberapa industri jasa keuangan yang sudah ditetapkan pada awal tahun," ujar Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Friderica Widyasari, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 November 2026.
 
Untuk pertumbuhan program asuransi, OJK memproyeksikan berada pada kisaran dua hingga empat persen. Kemudian program dana pensiun diproyeksikan tumbuh empat hingga enam persen. Sementara untuk pertumbuhan aset program penjaminan menjadi 28 hingga 30 persen.
 
 

PVML positif hingga akhir 2026


Sementara itu, kinerja industri bidang Perusahaan Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) diproyeksikan akan tetap tumbuh positif dengan piutang pembiayaan berada di kisaran dua hingga empat persen, hingga akhir 2026.

"Pada bidang PVML, kinerja industri perusahaan pembiayaan hingga akhir 2026, diproyeksikan akan tetap tumbuh positif dengan piutang pembiayaan berada di kisaran dua hingga empat persen," kata Friderica.



OJK Pastikan Sektor Jasa Keuangan Stabil di Tengah Konflik Geopolitik

(Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Foto: Metrotvnews.com/Gervin Purba)



Selain karena tekanan global yang berdampak pada melambatnya pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor, hal ini juga dipengaruhi oleh tren pembiayaan investasi. Walau demikian, Friderica menilai sektor jasa keuangan tetap menunjukkan ketahanan dan dapat menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik.

Friderica memastikan sektor jasa keuangan tetap stabil di tengah konflik geopolitik, tekanan inflasi, serta ekspektasi kenaikan suku bunga global. Ia menilai, dinamika inflasi global masih dipengaruhi kenaikan harga energi, seiring eskalasi konflik geopolitik.

Dia menambahkan, lonjakan tingkat inflasi di sejumlah negara, seperti Jepang dan Inggris, sudah melewati rentang target yang ditetapkan. Kenaikan inflasi tersebut mendorong Bank Sentral Global melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dengan kecenderungan suku bunga kebijakan berlanjut pada level yang tinggi hingga 2027.
 
 

(Gervin Nathaniel Purba)