Mahasiswi di kampus Cornell University di Amerika Serikat. Foto: The New York Times
Diperiksa, Mahasiswa Pelaku Pemerkosaan di Cornell University Berikan Keterangan Beragam
Fajar Nugraha • 5 October 2026 10:27
New York: Pada minggu-minggu setelah seorang mahasiswi Cornell University di Amerika Serikat (AS) melaporkan pemerkosaan di sebuah pesta persaudaraan atau fraternity di kampus, sebagian besar pria yang dituduhnya dimintai keterangan oleh pihak universitas mengenai tindakan mereka pada malam itu.
Jawaban mereka, yang sebelumnya belum pernah diberitakan tercatat secara rinci dalam ratusan halaman berkas investigasi rahasia yang diperoleh The New York Times.
Korban -,yang telah meninggalkan Cornell dan bulan lalu mengajukan gugatan terhadap universitas, organisasi persaudaraan tersebut beserta tujuh anggotanya, serta organisasi perkumpulan mahasiswi sorority miliknya mengatakan bahwa ia dicekoki narkoba pada Oktober 2024 setelah semalaman mengonsumsi alkohol dalam jumlah banyak, lalu mengalami kekerasan seksual berulang kali di rumah persaudaraan Chi Phi.
Empat orang mengakui adanya kontak seksual dengan perempuan itu, namun menyatakan bahwa interaksi tersebut didasari suka sama suka. Sementara itu, pria-pria lainnya membantah terlibat dalam aktivitas seksual apa pun.
Salah satu pria bahkan mengaku sebagai "korban pelanggaran seksual" karena perempuan tersebut melakukan seks oral kepadanya saat ia dalam kondisi "terlalu tidak berdaya" untuk memberikan persetujuan.
Keterangan mereka semua berbeda-beda, sering kali saling bertentangan, dan umumnya tidak sejalan dengan pernyataan yang diberikan perempuan tersebut kepada polisi Cornell pada tahun 2024. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa mereka tidak melihat tanda-tanda perempuan itu sedang mabuk.
Sebagian besar wawancara -,yang dilakukan oleh kantor Title IX universitas,- tidak berfokus pada pertanyaan eksplisit mengenai apakah para pria tersebut telah memperkosa perempuan itu, melainkan pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih umum: di mana mereka berada pada malam itu, apa yang mereka katakan, dan alasan mengapa mereka berada di dalam kamar tidur tersebut sejak awal.
Tidak satu pun dari pria-pria tersebut yang didakwa melakukan tindak pidana—jaksa wilayah setempat memutuskan untuk tidak melanjutkan kasus pidana setelah meninjau laporan polisi Cornell mengenai pengaduan wanita tersebut pada tahun 2024.
Namun, nama mereka masing-masing tercantum dalam gugatan yang diajukan wanita itu pada 16 September dengan tuduhan melakukan kekerasan seksual terhadapnya; sejak saat itu, jaksa wilayah Tompkins County, Matthew Van Houten, menyatakan bahwa kantornya akan kembali mempertimbangkan apakah dakwaan pidana perlu diajukan.
Sejak wanita tersebut -,yang dalam gugatannya disebut sebagai Jane Doe,- menggugat para anggota persaudaraan mahasiswa atau fraternity itu, mereka sebagian besar memilih untuk bungkam. Upaya untuk menghubungi pengacara dari enam pria tersebut tidak membuahkan hasil.
Jeremy Saland, kuasa hukum pria ketujuh bernama Scott Kretzschmar, mengakui bahwa kliennya memang terlibat dalam percakapan grup yang mendeskripsikan pertemuan seksual dengan bahasa vulgar, namun menegaskan bahwa kliennya tidak melakukan kesalahan lain.
"Terlibat dalam percakapan yang menyinggung tidak sama dengan terlibat dalam pemerkosaan," ujar Saland, seperti dikutip dari The New York Times, Senin 5 Oktober 2026.
Ia menambahkan bahwa dirinya telah menghubungi jaksa wilayah dan yakin Kretzschmar akan dinyatakan tidak bersalah. "Mohon biarkan proses hukum berjalan sebelum secara gegabah menyebarluaskan informasi atau mengambil kesimpulan yang keliru mengenai dirinya,” imbuh Saland.
Dalam pernyataan yang dirinci dalam catatan penyelidikan, Kretzschmar dan pria-pria lainnya memaparkan ingatan mereka tentang malam pesta tersebut dengan kata-kata mereka sendiri.
Mereka mengatakan bahwa interaksi dengan Jane Doe bermula ketika salah satu dari mereka, Matthew Ingalls, bertanya apakah wanita itu bersedia melakukan hubungan seksual bertiga dengannya dan anggota persaudaraan lainnya, Jonathan Newell.
Menurut mereka, permintaan itu kemudian berlanjut menjadi serangkaian aktivitas seksual. Berdasarkan gugatan Jane Doe, tak lama setelah pertemuan itu dimulai, Newell mengirim pesan Snapchat kepada puluhan anggota lain yang mengabarkan adanya "vagina gratis" di kamar tidur.
Catatan penyelidikan menunjukkan bahwa Newell memberi tahu penyidik bahwa ia diajak oleh Ingalls untuk ikut serta dalam hubungan bertiga tersebut; ia mengaku berasumsi bahwa Ingalls telah meminta izin sebelumnya.
Newell mengatakan bahwa ia dan Ingalls telah banyak minum serta mengonsumsi ganja dan ketamin, yang menyebabkan keduanya muntah. Pria-pria lain yang terlibat pada malam itu mengatakan bahwa Jane Doe dan orang-orang di sekitarnya tidak tampak terlalu mabuk, dan mereka sendiri pun tidak minum secara berlebihan.
"Cara bicara mereka tidak ada kesulitan. Mereka tampak benar-benar normal,” ujar Winston Lee, salah satu pria yang dituduh.
Anggota persaudaraan mahasiswa lainnya, Gillio Lopes -,yang tinggal sekamar dengan Saudara Newell di tempat terjadinya kontak seksual tersebut mengatakan bahwa ia memiliki "ingatan yang cukup jelas" mengenai malam itu karena, menurut pandangannya, ia tidak minum terlalu banyak, ia memperkirakan jumlahnya sekitar enam minuman, yang terdiri dari tiga bir Keystone dan tiga campuran vodka dengan Hawaiian Punch.
Saat ditanya mengenai interaksinya dengan Jane Doe, Lopes mengatakan bahwa wanitalah yang memulai kontak seksual di antara mereka dan tidak meminta persetujuannya, sebuah pernyataan yang sangat bertolak belakang dengan keterangan wanita tersebut mengenai malam itu.
Lopes mengatakan bahwa ia pergi sekitar pukul 2.00 pagi setelah merasa "tidak nyaman," lalu pergi ke McDonald’s bersama tiga temannya. Ia mengaku tidak menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi, sebagian karena dia "mengakui merasa agak malu dengan apa yang terjadi," menurut catatan wawancara.
Lee juga mengatakan bahwa Jane Doe memulai aktivitas seksual tanpa bertanya terlebih dahulu. Dia mengatakan dirinya mengonsumsi ketamin dengan cara menghirupnya dari tubuh wanita itu, dan wanita tersebut mencoba memulai hubungan seksual.
"Saya sempat mundur karena saya tidak ingin melakukan hal seperti hubungan seksual. Menurut saya, saat itu bukan waktu yang tepat untuk hal tersebut,” jelas Lee.
Namun, belakangan pada malam itu, Lee mengatakan dia meminta persetujuan Jane Doe sebelum melakukan hubungan seksual bertiga dengannya. Dia ingat pernah berkata kepada Jane Doe, "Jika kamu merasa tidak nyaman dengan hal ini atau tidak ingin melakukannya, itu tidak masalah sama sekali. Kita bisa menyudahi malam ini."
Dia mengatakan Jane Doe menjawab: "Kita semua di sini adalah orang dewasa yang memberikan persetujuan."
Salah satu pria lainnya, Kretzschmar mengatakan, kepada pewawancara bahwa dia dan temannya, Scott Norris, memasuki ruangan setelah membaca pesan Snapchat dari Newell, yang menurutnya membuatnya "bingung."
Dia mengatakan Jane Doe tidak berbicara dengan nada pelo saat mereka tiba dan wanita itu tidak terlihat mabuk. Dia mengatakan dirinya bertanya kepada wanita itu "apakah dia baik-baik saja, semata-mata karena isi pesan tersebut dan fakta bahwa ada satu wanita di dalam ruangan bersama beberapa pria."
"Kami hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja, dan ternyata memang demikian," ujar Kretzschmar, seraya menambahkan perihal Jane Doe: "Dan seandainya dia tidak baik-baik saja, saya ingin percaya bahwa saya akan membantu dan melakukan sesuatu untuk menanganinya."
Dalam wawancaranya, Norris mengatakan dia sempat "agak khawatir" saat menerima pesan Snapchat dari Newell, namun menganggapnya sebagai "lelucon kasar." Dia mengatakan dirinya tidak mengonsumsi narkoba di dalam ruangan tersebut dan tidak melakukan hubungan seksual dengan Jane Doe.
“Dia tampak bisa mengobrol dengan orang-orang, dan hal itu meredakan kekhawatiran apa pun yang sempat muncul akibat pesan teks sebelumnya,” ujar Norris, seraya menambahkan bahwa ia hanya berada di ruangan itu selama lima menit dan semua pria di ruangan tersebut mengenakan pakaian, baik lengkap maupun sebagian, selama waktu itu.
Dalam wawancaranya dengan polisi, Jane Doe mengatakan bahwa Mr. Kretzschmar dan Norris “lebih mirip pengintip (voyeur) daripada apa pun,” menurut catatan yang ada.
Diego Sarabia mengatakan ia memasuki ruangan itu setelah pukul 02.30 pagi dan terkejut melihat pemandangan di hadapannya: beberapa anggota persaudaraan mahasiswa (fraternity) berada di sana, dan salah satunya berdiri di belakang Jane Doe, meskipun Sarabia menolak menyebutkan apakah orang tersebut telanjang atau berpakaian.
“Saya sangat khawatir karena belum pernah melihat hal seperti ini selama empat tahun saya tinggal di rumah itu,” ujar Sarabia, sebagaimana tercantum dalam catatan.
Namun, ia mengatakan kekhawatirannya mereda ketika “semua orang di ruangan itu” memintanya untuk masuk.
“Saya ingat betul perempuan itu mengatakan sesuatu yang intinya, ‘Hal ini lumrah pada zaman abad pertengahan,” ujar Sarabia.
Jane Doe mengatakan bahwa pada satu momen, pria itu menghinanya sebelum menarik dan menciumnya.
Jane Doe, yang saat itu merupakan mahasiswa tahun kedua, juga menjalani wawancara mendalam dengan penyelidik Title IX Cornell, begitu pula sekitar 20 orang lainnya, termasuk teman-temannya dan saksi-saksi lain yang mengetahui kejadian malam itu serta dampaknya.
Ia menggambarkan malam yang mengerikan di ruang persaudaraan tersebut, di mana ia tidak bisa menjangkau ponselnya. Ia mengatakan dirinya diberi narkoba dan alkohol dalam jumlah banyak serta diperkosa berulang kali oleh pria-pria yang hampir tidak dikenalnya atau bahkan belum pernah ia temui sebelumnya, menurut dokumen yang ada.
“Saya mabuk berat,” ujar Jane Doe.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa ia akhirnya memahami apa yang telah menimpanya. Saat memberikan keterangan kepada penyelidik polisi tiga minggu setelah pesta tersebut, ia menyatakan keyakinan penuh: “Saya bisa mengatakan dengan keyakinan 100 persen bahwa saya telah diperkosa,” ujarnya.
Pihak Cornell menyatakan pada hari Senin bahwa mereka telah menjatuhkan “berbagai sanksi kepada para pria tersebut, termasuk pengeluaran dari universitas (expulsion) dan skorsing.” Thomas Giuffra, pengacara Jane Doe, mengatakan bahwa hanya dua dari pria tersebut yang dikeluarkan, hal yang tidak dianggap sebagai keadilan oleh kliennya.