Gelombang Protes Ekonomi Iran, Kemlu Intensif Pastikan Keamanan Ratusan WNI

Pelaksana Tugas Direktur Pelindungan WNI (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah. Foto: Metrotvnews.com

Gelombang Protes Ekonomi Iran, Kemlu Intensif Pastikan Keamanan Ratusan WNI

Muhammad Reyhansyah • 8 January 2026 14:06

Jakarta: Kementerian Luar Negeri RI memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Iran dalam kondisi aman di tengah gelombang demonstrasi yang telah berlangsung lebih dari sepekan terakhir. 

Aksi protes yang dipicu krisis ekonomi dan anjloknya nilai tukar mata uang rial itu telah memicu ketegangan di berbagai kota besar di Iran.

Pelaksana Tugas Direktur Pelindungan WNI (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, mengatakan hingga kini belum ada laporan WNI yang terdampak langsung oleh unjuk rasa tersebut. 

“Sudah sekitar 10 hari demo berlangsung, tetapi sejauh ini tidak ada laporan WNI yang terdampak. Kondisi WNI masih baik,” ujar Heni, dalam jumpa media  di Jakarta, Kamis, Januari 2026. Berdasarkan data per Juni 2025, tercatat terdapat 386 WNI yang berada di Iran.
 

Pemantauan terhadap kondisi WNI dilakukan secara intensif oleh KBRI Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyebut Dubes RI untuk Iran, Roy Sumirat, terus menjalin komunikasi dengan para WNI untuk memastikan keselamatan mereka. 

Selain itu, KBRI Teheran juga telah menyampaikan imbauan agar seluruh WNI tetap meningkatkan kewaspadaan.

“KBRI Teheran mengimbau WNI untuk menghindari kerumunan massa, selalu membawa kartu identitas saat bepergian, serta segera menghubungi hotline KBRI jika membutuhkan bantuan,” tegas Yvonne. 

Pemerintah Indonesia berharap situasi keamanan di Iran segera kembali kondusif sehingga aktivitas masyarakat dapat berjalan normal.

Gelombang Protes Ekonomi Iran

Gelombang demonstrasi di Iran bermula pada Minggu, 28 Desember lalu, setelah nilai tukar rial anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah. Aksi yang awalnya berfokus pada isu ekonomi itu kemudian berkembang menjadi tuntutan kebebasan politik. 

Pada Selasa, 30 Desember, mahasiswa di berbagai kota turut turun ke jalan dengan meneriakkan slogan anti-pemerintah seperti “Mahasiswa, jadilah suara rakyatmu” dan “Mati untuk Republik Islam”. Tekanan publik membuat Presiden Iran Masoud Pezeshkian menerima pengunduran diri Kepala Bank Sentral Iran dan berjanji melakukan reformasi moneter serta membuka dialog, meski unjuk rasa masih berlanjut.

Dilansir dari Anadolu, Iran Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan jumlah korban tewas akibat demonstrasi telah meningkat menjadi 38 orang hingga Rabu, 7 Januari 2026. 

Protes dilaporkan berlangsung di seluruh 31 provinsi, mencakup 348 lokasi, dengan rincian 34 demonstran dan empat anggota aparat keamanan tewas. Selain itu, puluhan orang terluka dan sedikitnya 2.217 orang ditahan, sebagian besar korban luka akibat tembakan peluru karet dan peluru plastik. Hingga kini, otoritas Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait korban jiwa maupun luka-luka.

Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga menyatakan Washington siap “datang menyelamatkan” para demonstran jika pemerintah Iran menggunakan kekuatan mematikan.

Pernyataan itu memicu kemarahan pejabat tinggi Iran dan menambah ketegangan di tengah situasi politik dan ekonomi yang memburuk, termasuk nilai tukar rial yang kini menembus 1.350.000 per dolar AS.

Meski demikian, Kementerian Luar Negeri RI memastikan kondisi seluruh WNI di Iran masih terkendali. Pemerintah Indonesia melalui KBRI Teheran akan terus memantau perkembangan situasi dan siap memberikan bantuan jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh WNI di negara tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)