Ilustrasi pilah sampah. Foto- dok. MI
9 Ribu Sekolah di Jakarta Kelola Sampah Elektronik Secara Bertahap
Nattasya Amani Vrazeti • 24 September 2026 18:45
Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menerapkan program pengolahan sampah elektronik (e-waste) atau e-Waste School Movement di sembilan ribu sekolah. Program ini dilakukan bertahap.
Gerakan ini resmi diawali dari SMAN 68 Jakarta sebagai titik mula. Keberhasilan program ini diukur dari pembentukan kebiasaan memilah dan konsistensi data volume sampah, bukan sekadar mengejar capaian jumlah sekolah.
“SMAN 68 sebagai titik awal, kemudian ke sekolah Adiwiyata, lalu perluasan bertahap. Yang diukur dulu adalah kebiasaan dan data volume, bukan mengejar angka sekolah semata,” ujar Chico.
Chico megatakan langkah ini difokuskan pada penanaman kebiasaan memilah sampah B3 sejak dini dari lingkungan sekolah hingga berdampak ke keluarga. Untuk tahap awal, Pemprov DKI memprioritaskan 441 sekolah status Adiwiyata yang sudah ada karena memiliki fondasi kepedulian lingkungan.
Pada tahap awal, mitra pengelola menargetkan penyediaan dropbox dan pengangkutan e-waste di sekitar 441 sekolah Adiwiyata dapat rampung dalam waktu satu tahun, sebelum diperluas ke sekolah lain di Jakarta.
“Tahap awal sekolah Adiwiyata sekitar 441 (unit). Mitra menargetkan menjangkau kelompok ini dalam satu tahun. Setelah itu diperluas ke sekolah lain,” kata Chico.

Ilustrasi pengelolaan sampah. Unplash
Dia menambahkan program ini dikawal bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan mitra pengelola resmi EWasteRJ.
Kebijakan ini mengacu pada Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber, serta Instruksi Kepala Dinas Pendidikan Nomor 33 Tahun 2026.
Teknisnya, setiap sekolah peserta dibekali satu dropbox untuk menampung perangkat elektronik kecil dari siswa dan guru. Volume sampah B3 yang terkumpul wajib dicatat secara digital melalui aplikasi JOSS (Jaga dan Olah Sampah Sekolah), kemudian diangkut oleh mitra resmi untuk diolah khusus, bukan dibuang ke TPS biasa.
“Alurnya, setiap sekolah peserta mendapat satu dropbox e-waste, siswa dan guru memasukkan perangkat elektronik kecil ke situ, pengangkutan dilakukan EwasteRJ sesuai tingkat kepenuhan atau jadwal sekolah, pengolahan oleh mitra resmi, bukan dibuang ke TPS biasa,” tutur Chico.