Rupiah Dibuka ke Rp17.990/USD Selasa Pagi, 7 Juli 2026

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka ke Rp17.990/USD Selasa Pagi, 7 Juli 2026

Eko Nordiansyah • 7 July 2026 09:08

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan tipis. Rupiah naik saat dolar AS masih bergerak datar karena minim sentimen pendorong.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 6 Juli 2026, rupiah berada di level Rp17.990 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik lima poin atau setara 0,03 persen dari Rp17.995 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.994 per USD. Rupiah bergerak melemah dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin sebesar Rp17.955.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif cenderung melemah hari ini. Mata uang rupiah akan bergerak di antara Rp17.990 sampai Rp18.050 per USD.

Ibrahim menyebut, rupiah masih akan tertekan faktor dalam dan luar negeri. Ia mengatakan, masalah geopolitik di Eropa Timur, dan perkembangan negosiasi damai AS-Iran di Timur Tengah masih membayangi gerak rupiah.

"Risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama. Para pedagang terus mempertimbangkan sinyal yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran mengenai keamanan serta tata kelola jalur air strategis tersebut ke depan setelah pergantian kepemimpinan," jelas Ibrahim.

Selain itu, posisi dolar AS tertekan data ketenagakerjaan non-farm payroll (NFP). Namun, pelemahan greenback tertahan oleh ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat demi menjaga inflasi.

Sementara di dalam negeri, kondisi psikologis pasar terbebani oleh laporan terbaru dari lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings. Lembaga tersebut memberikan alarm kuning terkait kerentanan kondisi ekonomi makro di dalam negeri.

Pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USUSD1,61 miliar pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun.

(Eko Nordiansyah)