Titik rembesan air di titik semburan lumpur Lapindo, Sidoarjo. MI
Rembesan Air Muncul di Tanggul Lumpur Lapindo, Ribuan Warga Cemas
Heri Susetyo • 11 June 2026 12:36
Sidoarjo: Ribuan warga yang tinggal di sekitar tanggul penahan lumpur Lapindo titik 68 diliputi rasa cemas dalam sepekan terakhir. Pasalnya, ditemukan rembesan air sepanjang sekitar 100 meter di bawah tanggul yang menjadi batas antara Desa Glagaharum, Kecamatan Porong, dan Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Kondisi ini diperparah oleh volume air dan lumpur di kolam penampungan yang terus meningkat karena belum dialirkan ke Sungai Porong. Saat ini, ketinggian air dilaporkan hanya tersisa sekitar satu meter dari bibir tanggul.
Pihak Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) sebenarnya telah melakukan tindakan darurat dengan melokalisasi rembesan dan mengalirkannya ke sungai kecil terdekat. Namun, langkah tersebut dinilai belum mampu menenangkan warga.
Ketua RT 11 RW 2 Desa Gempolsari, Sudarmawan, mengungkapkan bahwa sungai kecil yang digunakan sebagai tempat pembuangan justru kini rawan meluap. Bahkan, sebagian aliran air dari rembesan tersebut sudah mulai merembes hingga ke jalan desa.
"Sungainya sendiri sudah rawan meluber. Bahkan ada aliran kecil yang sudah sampai ke jalan desa. Warga tentu khawatir jika kondisi ini terus berlanjut," kata Sudarmawan, Rabu, 10 Juni 2026.
Ancaman potensi tanggul jebol memicu trauma mendalam bagi masyarakat setempat, mengingat peristiwa amblasnya tanggul pernah terjadi beberapa tahun lalu. Akibatnya, warga terpaksa melakukan pengawasan secara mandiri setiap malam demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kami tidak bisa tidur nyenyak. Hampir setiap malam warga bergantian memantau lingkungan karena takut terjadi sesuatu saat malam hari," tambah Sudarmawan.

Sejumlah warga korban lumpur Lapindo datang ke tanggul untuk memanjatkan doa dan tabur bunga. MI
Jika terjadi kegagalan struktur atau tanggul jebol di titik 68, dampak bencana dipastikan langsung mengarah ke pemukiman di bawah tanggul. Wilayah yang masuk dalam zona rawan ini mencakup sedikitnya 6 RT (Rukun Tetangga) dengan estimasi populasi sekitar 1.000-1.500 jiwa.
Melihat besarnya risiko tersebut, warga mendesak agar PPLS segera mengambil langkah penanganan yang lebih optimal dan terukur. Tuntutan utama warga adalah segera dilakukan pengurangan volume air dan lumpur di dalam kolam penampungan, sekaligus penguatan struktur tanggul demi menjamin keselamatan warga dari bayang-bayang trauma.