Meski Tren Kilaunya Meredup, Harga Emas Diyakini Bakal Menguat ke USD5.231

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Meski Tren Kilaunya Meredup, Harga Emas Diyakini Bakal Menguat ke USD5.231

Husen Miftahudin • 12 March 2026 10:41

Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih berpotensi bergerak menguat meskipun sempat mengalami koreksi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Andy Nugraha, pergerakan emas saat ini masih berada dalam kecenderungan bullish pada timeframe H1, meskipun tekanan dari penguatan dolar AS dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat masih membatasi kenaikan harga logam mulia tersebut.

Pada perdagangan terbaru, harga emas atau XAU/USD tercatat mengalami sedikit pelemahan sekitar 0,37 persen dan diperdagangkan di kisaran USD5.170 per troy ons. Koreksi ini terjadi di tengah penguatan dolar AS setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan hasil relatif sesuai ekspektasi pasar.

"Meski data inflasi tidak memberikan kejutan signifikan, kondisi tersebut tetap membuat pelaku pasar mempertahankan pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan hanya akan memangkas suku bunga satu kali pada akhir tahun ini," ungkap Andy dalam analisis hariannya, Kamis, 12 Maret 2026.

Selain faktor makroekonomi, dinamika geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan harga emas. Ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dilaporkan masih berlangsung hingga lebih dari sepuluh hari. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang berujung pada kenaikan harga minyak.

"Lonjakan harga energi berpotensi memicu tekanan inflasi tambahan, yang pada akhirnya memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global." jelas dia.

Di sisi lain, meningkatnya harga minyak juga menimbulkan spekulasi bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kondisi ini membuat pasar menjadi lebih berhati-hati dalam memproyeksikan kebijakan pelonggaran moneter oleh Federal Reserve.

Akibatnya, menurut Andy, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah menjadi faktor yang menahan kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
 

Baca juga: Kilau Harga Emas Dunia Dicuri Lagi, Minyak dan Dolar AS Digdaya


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Potensi kenaikan masih terbuka


Secara teknikal, Nugraha menjelaskan kombinasi pola candlestick dengan indikator Moving Average menunjukkan sinyal penguatan tren bullish pada XAU/USD. Hal ini menandakan meskipun harga sempat terkoreksi, potensi kenaikan masih terbuka selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat.

Berdasarkan analisis teknikal tersebut, jika tekanan beli atau bullish terus berlanjut, maka harga emas berpotensi bergerak naik menuju level resistance di sekitar USD5.231. Level tersebut diperkirakan menjadi target kenaikan terdekat yang dapat diuji oleh pasar apabila sentimen positif kembali mendominasi perdagangan.

Namun demikian, Andy juga mengingatkan risiko koreksi tetap perlu diperhatikan oleh para pelaku pasar. Apabila harga emas gagal mempertahankan momentum kenaikan, maka potensi penurunan jangka pendek dapat mengarah ke area support di sekitar level USD5.126. Area ini dipandang sebagai titik penting yang dapat menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.

Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama, termasuk perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak global, serta data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

Investor juga akan mencermati rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang dijadwalkan dalam waktu dekat karena indikator tersebut menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menilai kondisi inflasi.

"Dengan kombinasi faktor fundamental dan teknikal tersebut, Dupoin Futures menilai volatilitas harga emas masih akan cukup tinggi dalam waktu dekat. Meski menghadapi tekanan eksternal, tren bullish yang terbentuk pada timeframe intraday menunjukkan peluang kenaikan masih tetap terbuka selama pasar mampu mempertahankan momentum beli di atas area support utama," terang Andy.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)