Akhir Riwayat Tiang Monorel Mangkrak di Jakarta

Tiang monorel mangkrak di Jakarta. Foto: Antara.

Akhir Riwayat Tiang Monorel Mangkrak di Jakarta

Arga Sumantri • 14 January 2026 14:23

Jakarta: Cerita panjang tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, sampai di babak penutup pada pertengahan Januari 2026. Setelah nyaris dua dekade nasibnya tak jelas, jejeran besi tua yang mengganggu pandangan mata itu kini dibongkar.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjadi tokoh yang menutup cerita tiang monorel mangkrak di kawasan Kuningan tersebut. Langkah ini diharapkan dapat mempercantik tampilan Ibu Kota.

Melansir Antara, Pramono kali pertama mengumumkan niatnya membongkar tiang-tiang monorel mangkrak di Jalan Rasuna Said pada Mei 2025. Menurut dia, keberadaan tiang monorel yang mangkrak itu sangat mengganggu keindahan Jakarta. Pramono lantas mengebut landasan hukum guna merapikan tiang-tiang itu.

"Saya terus terang gatal. Gatal itu apa ya? Berkeinginan banget untuk menyelesaikan itu," kata Pramono kala itu.

Pramono pun menempuh berbagai cara untuk membersihkan tiang monorel demi mempercantik ibu kota. Salah satunya, sowan dengan Kejaksaan Tinggi Jakarta hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sejarah pembangunan monorel

Semua berawal dari keinginan Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007 Sutiyoso untuk memecah persoalan kemacetan Jakarta saat itu. Pria yang akrab disapa Bang Yos ini menceritakan, pada 2003, ia mulai mengumpulkan pakar-pakar transportasi dari berbagai universitas.

Tujuannya, untuk merancang jaringan transportasi makro di Jakarta. Ia juga  melakukan studi banding ke beberapa negara, salah satunya Bogota, Kolombia. Sebab, situasi kota itu dinilai sama dengan Jakarta.

Sutiyoso pun memutuskan jaringan transportasi Jakarta akan terdiri atas empat moda. Paling besar, MRT di bawah tanah, lalu ada monorel di atas, busway 15 koridor di bawah, hingga alternatif yang dinamakan waterway.

Meski memiliki jalur masing-masing, Sutiyoso merencanakan moda transportasi itu akan  terintegrasi. Sehingga penduduk Jakarta dan sekitarnya dapat dengan mudah berpergian dari titik satu ke titik lainnya.

Gubernur Jakarta Pramono Anung dan mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso melakukan pembongkaran tiang monorel secara simbolis. Foto: Metro TV/Cony Brilliana.

Sutiyoso mengatakan, cukup sulit mendapatkan investor pada masa itu. Sebab, kondisi sosial ekonomi saat itu belum mapan akibat kerusuhan Mei tahun 1998. Situasi keos itu membuat tingkat kepercayaan investor terhadap Indonesia, wabilkhusus Jakarta.

Namun, ia tetap meyakini rencana yang dibuat oleh pakar transportasi itu bisa menyelesaikan persoalan kemacetan Jakarta untuk jangka panjang. "Kalau tidak pernah saya mulai, sampai 'hari raya kuda' juga nggak jadi-jadi," ucap Sutiyoso.

Sutiyoso pun bertanya kepada tim, moda transportasi mana yang tak butuh investor. TransJakarta yang akhirnya dibangun terlebih dahulu tanpa investor. Guna mengejar kecepatan menanggulangi kemacetan, secara paralel pemerintah Jakarta saat itu juga mulai membangun monorel.

Pada 2004, rencana pembangunan monorel dicanangkan Presiden Megawati Soekarnoputri. Ketika dicanangkan Kepala Negara, itu berarti segala sesuatunya sudah tersedia. Rencananya jelas, investornya juga ada dari Tiongkok. Pembangunan pun dimulai.

Pada 2007, Sutiyoso berhenti menjabat sebagai Gubernur Jakarta pada 2007. Lepas itu pula, monorel jadi proyek mangkrak dan sekadar besi tua yang mengganggu keindahan saat ini. Saat LRT hadir di 2014, kisah tiang-tiang itu pun makin tak menentu.

Sutiyoso lega

Sutiyoso mengaku lega dengan langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang mulai membongkar tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Baginya, pembersihan struktur beton yang terbengkalai selama puluhan tahun tersebut memberikan kepastian estetika dan tata ruang bagi ibu kota.

"Mudah-mudahan kalau saya lewat ini, tidak sakit mata lagi saya,” ujar Sutiyoso saat meninjau lokasi pembongkaran bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di kawasan Kuningan, Rabu, 14 Januari 2026.

Sutiyoso mengenang bahwa proyek monorel sejatinya merupakan bagian dari cetak biru sistem transportasi makro Jakarta yang ia gagas untuk mengatasi kemacetan. Namun, dinamika kebijakan dan pergantian kepemimpinan membuat proyek tersebut terhenti hingga menyisakan barisan tiang tanpa fungsi. 

Ia menilai keputusan untuk membongkar tiang-tiang tersebut merupakan langkah realistis. Karena proyek tidak mungkin lagi dilanjutkan.

Pembongkaran menghabiskan anggaran Rp254 juta

Pramono mengungkapkan ada 109 tiang monorel yang dibongkar di kawasan Kuningan. Proyek ini menghabiskan anggaran hingga Rp254 juta.

Pramono bilang langkah ini jadi simbol komitmen pemerintah untuk menata kembali fasilitas publik yang terbengkalai. Penataan ini dilakukan secara menyeluruh agar kawasan Kuningan menjadi lebih fungsional dan nyaman bagi warga.

Sejak awal masa kampanye, Pramono memang berjanji akan menyelesaikan seluruh persoalan yang tak tuntas dari pemimpin-pemimpin Jakarta terdahulu. Dalm hal ini, ia bisa dibilang menepatinya.

Tiang monorel mangkrak di Jalan Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Metro TV/Cony Brilliana.

Mulai 14 Januari 2026, tepatnya pukul 09.15 WIB, pembongkaran tiang-tiang itu dilakukan pihak Dinas Bina Marga DKI Jakarta. Pembongkaran satu tiang monorel diprediksi menghabiskan waktu satu hari.

Biar tak mengganggu warga, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan pembongkaran tiang monorel yang mangkrak di kawasan Rasuna Said dilakukan pada malam hari, tepatnya mulai pukul 23.00 WIB hingga 05.00 WIB. Selain itu, disiagakan lima anggota dari Dishub dan 15 anggota dari Satpol PP untuk mengawasi kelancaran situasi lalu lintas selama pembongkaran.

Suasana Jalan HR Rasuna Said diharapkan lebih indah dan nyaman untuk masyarakat. Pramono pun berjanji menata kawasan itu dengan membangun taman, ruas jalan, hingga pedestrian. Biaya penataan kawasan tersebut ditaksir mencapai Rp100 miliar.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)