Foto: BPBD Cilacap
Krisis Air Bersih di Cilacap, Lebih dari 18 Ribu Warga Terdampak
Liliek Dharmawan • 28 July 2026 15:13
Cilacap: Krisis air bersih akibat musim kemarau di Cilacap, Jawa Tengah, terus meluas. Hingga kini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap mencatat sebanyak 19 desa di 11 kecamatan terdampak kekeringan. Sedikitnya 18.255 jiwa atau 5.459 kepala keluarga (KK) telah menerima bantuan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, mengatakan pemerintah daerah terus mengintensifkan distribusi air bersih dengan menggandeng berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, organisasi kemanusiaan, hingga instansi pemerintah.
"Hingga 27 Juli 2026, kami telah menyalurkan 673.000 liter air bersih atau setara dengan 130 tangki kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Penyaluran ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah dengan berbagai mitra melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)," kata Taryo, Selasa, 28 Juli 2026.
Baca Juga :
Menurut Taryo, keterlibatan berbagai pihak sangat membantu percepatan penanganan krisis air bersih yang semakin meluas di sejumlah wilayah selama musim kemarau. Kontribusi terbesar dari sektor CSR berasal dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cilacap yang menyalurkan 245.000 liter atau 48 tangki air bersih.

Foto: BPBD Cilacap
Selain itu, Pertamina Patra Niaga melalui program Siaga Peduli Kabupaten Cilacap menyumbang enam tangki atau 48.000 liter air, sedangkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy mendistribusikan dua tangki atau 10.000 liter.
Pada Senin, 27 Juli 2026, BPBD kembali menyalurkan enam tangki air bersih ke enam titik di lima kecamatan. Bantuan tersebut disalurkan ke SD Negeri Karangkemiri 02 di Kecamatan Jeruklegi, SMP Negeri 3 Bantarsari, SMP Negeri 2 Satu Atap Rawaapu, Desa Ujungalang di Kecamatan Kampung Laut, serta Desa Bojong dan Desa Kubangkangkung di Kecamatan Kawunganten.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam penanganan kekeringan. Sinergi pemerintah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi selama musim kemarau," ujarnya.