Air Asia X Kerek Fuel Surcharge 20% Imbas Konflik Timur Tengah

Pesawat AirAsia. Foto: newsroom.airasia.com

Air Asia X Kerek Fuel Surcharge 20% Imbas Konflik Timur Tengah

Richard Alkhalik • 7 April 2026 16:35

Kuala Lumpur: Meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kini memberikan tekanan bagi kelangsungan operasional industri penerbangan, seiring dengan meroketnya harga bahan bakar secara global.

Mengutip laporan CNA, Senin, 7 April 2026, maskapai penerbangan bertarif rendah (LCC) AirAsia X secara resmi mengumumkan rencana penyesuaian tarif tiket dan pemangkasan sejumlah rute penerbangan.

Langkah efisiensi ini terpaksa diambil lantaran margin operasional perusahaan tak lagi sanggup menahan pembengkakan beban bahan bakar yang dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Perusahaan tersebut telah mengerek pungutan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) sekitar 20 persen. Kebijakan tersebut berimplikasi langsung pada penyesuaian harga tiket yang naik antara 31 persen hingga 40 persen.

Meski dihadapkan pada tekanan tarif, Pendiri AirAsia X sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Capital A Tony Fernandes menegaskan tingkat permintaan penumpang tetap tinggi. Ia meyakini maskapai akan mencatatkan pemulihan pascakrisis yang jauh lebih tangguh.

Tekanan beban operasional tersebut mendera maskapai di tengah harga bahan bakar maskapai yang telah menembus level USD300 per barel di sejumlah pasar global. Menariknya, tantangan ini muncul tepat setelah maskapai merampungkan proses akuisisi atas bisnis penerbangan jarak pendek dari entitas induk dan afiliasinya pada Januari lalu.
 
Baca juga: Batas Atas Fuel Surcharge Naik 38%, Kenaikan Tiket Pesawat Maksimal 13%


(Pesawat maskapai AirAsia. Foto: Anadolu Agency)
 

Lanjutkan pembukaan hub di Bahrain


Sementara CEO AirAsia X Bo Lingam menegaskan komitmen perusahaan untuk merealisasikan pembukaan pusat operasional (hub) di Bahrain pada Juni 2026. Kendati demikian, perusahaan belum dapat memberikan kepastian final terkait keberlanjutan ekspansi tersebut apabila eskalasi konflik di kawasan tak kunjung mereda.

Sebelumnya pada Februari lalu, maskapai telah menginformasikan rencana strategis untuk merambah rute di luar kawasan Asia. Rute Kuala Lumpur-London via hub Bahrain tersebut dijadwalkan beroperasi perdana pada 26 Juni 2026.

Namun, pengumuman tersebut dipublikasikan sebelum meletusnya serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir bulan itu. Eskalasi konflik telah mendisrupsi lalu lintas aviasi di kawasan Timur Tengah sehingga memaksa sejumlah maskapai menangguhkan rute operasional guna menghindari wilayah udara tersebut.

Bo menegaskan dalam keterangannya bahwa peluncuran hub Bahrain akan dieksekusi sesuai jadwal jika konflik mereda sebelum Juni. Kendati demikian, ia enggan memberikan jaminan kepastian apabila eskalasi tersebut berubah menjadi krisis berkepanjangan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)