Asa Mila di Bantaran Rel: Bertahan Hidup di Balik Terpal

Gubuk-gubuk di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Foto: Metro TV/Muhammad Alvi.

Asa Mila di Bantaran Rel: Bertahan Hidup di Balik Terpal

Metro TV • 8 April 2026 17:19

Jakarta: Di balik bisingnya deru mesin kereta api yang melintasi kawasan Senen, Jakarta Pusat, terselip kehidupan warga yang menggantungkan nasib pada tenda-tenda seadanya. 

Di antara gubuk-gubuk berbahan kayu bekas dan terpal lusuh, Mila, 51, mencoba merajut asa bersama keluarganya di hunian sempit berukuran 3x4 meter persegi.

"Karena enggak ada pilihan lain. Kalau untuk ngontrak kami sangat kekurangan, untuk makan saja susah," ujar Mila saat ditemui di gubuknya di bantaran rel Senen, Jakarta Pusat, Rabu, 8 April 2026.
 


Bagi Mila, menetap di pinggiran rel bukanlah sebuah pilihan, melainkan keterpaksaan. Setelah terusir dari kontrakan lamanya yang direnovasi tanpa kepastian, ia tidak memiliki cukup uang untuk mencari tempat tinggal baru. 

Hasil memulung yang hanya berkisar Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari harus ia bagi untuk menghidupi empat anggota keluarga.

Hidup dalam Serba Berbayar

Meski tinggal di lingkungan yang dianggap kumuh, kenyataannya Mila tetap harus merogoh kocek untuk kebutuhan dasar. Di Jakarta, air bersih dan sanitasi adalah kemewahan yang harus dibeli setiap hari.

"Untuk mandi kami ke WC dekat pasar. Untuk masak air kami beli dari PAM, dua ember Rp15 ribu," ungkap Mila.

Walau begitu, Mila merasa sistem "iuran harian" di bantaran rel jauh lebih ringan dibandingkan beban kontrakan bulanan yang kerap menunggak. Lokasi yang dekat dengan pasar juga memudahkannya mencari tambahan penghasilan, mulai dari memulung hingga menjadi buruh angkut barang.

Titik Terang dari Presiden

Kehidupan Mila sempat sedikit terangkat ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan blusukan ke kawasan tersebut beberapa waktu lalu. Saat itu, ia menerima bantuan tunai sebesar Rp2 juta langsung dari tangan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Uang bantuan itu segera ia gunakan untuk memperbaiki struktur gubuknya agar lebih kokoh dari terpaan angin dan hujan. Meski telah diperbaiki, kondisi tempat tinggal Mila tetap jauh dari kata layak untuk kesehatan dan keamanan.


Gubuk-gubuk di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Foto: Metro TV/Muhammad Alvi.

Bayang-Bayang Relokasi

Kini, di tengah rencana pemerintah daerah untuk melakukan penataan kawasan, kekhawatiran baru menghantui Mila. Isu relokasi ke rumah susun (rusun) justru membuatnya cemas ketimbang merasa tenang.

Ia takut jika dipindahkan ke rusun yang jauh dari pusat keramaian, ia akan kehilangan akses pekerjaan sebagai pemulung dan buruh angkut di pasar. 

Baginya, rel yang bising itu adalah napas hidup, sementara hunian baru yang lebih bersih justru dianggap sebagai ancaman bagi dapurnya yang terus mengepul tipis.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan kepada sejumlah kementerian lembaga untuk membangun rumah hunian layak bagi warga yang masih tinggal di pinggir rel kereta api. Instruksi ini disampaikan usai Prabowo meninjau permukiman sekitar jalur rel di kawasan Senen, Jakarta pada Kamis, 26 Maret 2026.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyampaikan perintah ini disampaikan presiden kepada Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, Perum Perumnas, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) serta pejabat terkait untuk membangun rumah hunian dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) bagi masyarakat yang masih tinggal di pinggir rel kereta api Senen.

"Hari ini juga tim sudah bergerak untuk proses pembangunan hunian dan MCK baru yang letaknya tidak jauh dari kawasan asli tinggal mereka," kata Teddy dalam unggahan resmi media sosial di Jakarta, dilansir Antara, Jumat, 27 Maret 2026.

(Metro TV/Muhammad Alvi)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)