Viral Fenomena Lipstick Effect di Tengah Kondisi Ekonomi, Apa Itu?

Ilustrasi. Foto: Dok istimewa

Viral Fenomena Lipstick Effect di Tengah Kondisi Ekonomi, Apa Itu?

Eko Nordiansyah • 23 June 2026 20:15

Jakarta: Fenomena lipstick effect sedang ramai dibicarakan di media sosial di tengah kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Kondisi ini menyoroti pusat perbelanjaan yang masih ramai, antrean kopi kekinian yang panjang, dan restoran tetap penuh meski ekonomi dianggap sedang sulit.

Apa itu lipstick effect?

Dikutip dari laman Uma.ac.id, lipstick effect adalah kecenderungan orang tetap membeli barang-barang kecil yang memberikan rasa senang meskipun kondisi ekonomi sedang sulit. Barang-barang yang bukan kebutuhan pokok dan terjangkau, tapi mampu memberikan kepuasan emosional instan.

Contohnya termasuk lipstik atau produk kosmetik, parfum, kopi mahal di kafe, camilan premium, atau makan di luar. Sementara itu, pengeluaran besar seperti membeli rumah, mobil, atau barang mewah mahal justru ditunda atau dibatalkan.

Kondisi ini terjadi di kalangan masyarakat sebagai bentuk pelarian yang dapat memberikan kepuasan emosional atau investasi kecil untuk meningkatkan rasa percaya diri. Padahal ada bahaya negatif dari kondisi ini.

(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Bahaya lipstick effect bagi keuangan

Dikutip dari laman Bank Jago, meskipun terlihat sebagai pengeluaran kecil, lipstick effect dapat menimbulkan beberapa bahaya terhadap keuangan pribadi jika nggak kamu kelola dengan bijak.

1. Pengeluaran jadi impulsif

Pengeluaran impulsif untuk produk-produk premium berukuran kecil bisa berbahaya bagi keuangan pribadi. Terlebih sebenarnya barang-barang tersebut tidak benar-benar dibutuhkan.

2. Penumpukan utang

Jika pengeluaran impulsif tidak terkontrol, maka dapat menyebabkan penumpukan utang. Apalagi jika pembelian dilakukan dengan pinjaman online atau kartu kredit.

3. Pengabaian kebutuhan pokok atau kebutuhan

Fokus pada pembelian produk-produk tersebut dapat mengalihkan perhatian dari kebutuhan pokok yang lebih penting, seperti makanan, kesehatan, atau pendidikan.

4. Gaya hidup konsumtif

Gaya hidup konsumtif yang berlebihan akan menyebabkan seseorang terus-menerus mencari kepuasan instan melalui pembelian barang-barang kecil.

Cara bijak menghadapi lipstick effect

Sebagai konsumen, ada beberapa pelajaran penting dari fenomena ini.

1. Kenali diri sendiri

Apakah pembelian kecil benar-benar memberikan nilai tambah atau hanya pelarian sementara.

2. Buat anggaran yang jelas

Pisahkan antara kebutuhan pokok, keinginan kecil, dan pengeluaran besar. Tetapkan batas bulanan untuk treat yourself supaya tidak berlebihan.

3. Cari alternatif yang lebih murah tapi tetap menyenangkan

Misalnya, membuat kopi sendiri di rumah dengan mesin sederhana daripada selalu beli di kafe. Atau memilih produk lokal yang kualitasnya baik dengan harga lebih terjangkau.

4. Manfaatkan momentum untuk belajar literasi keuangan

Pahami kondisi ekonomi naik turun adalah hal biasa. Dengan perencanaan yang matang, kita bisa tetap menikmati hidup tanpa mengorbankan masa depan.

(Eko Nordiansyah)