Sejarah dan Peninggalan 3 Kerajaan Buddha Terbesar di Indonesia

Candi Borobudur. (Freepik)

Sejarah dan Peninggalan 3 Kerajaan Buddha Terbesar di Indonesia

Riza Aslam Khaeron • 26 February 2026 19:53

Jakarta: Seiring sejarah, kerajaan-kerajaan Buddha banyak meninggalkan dampak serta warisan historis, baik berupa candi, prasasti, maupun nilai-nilai budaya yang tetap didambakan hingga zaman modern.

Banyak yang dapat dipelajari dari masa-masa kerajaan hingga sekarang. Perkembangan zaman bermula dari masa yang telah berlalu, dan fondasi figur-figur pemerintahan sekarang dibangun oleh perjalanan sejarah.

Keberadaan dan masa-masa kerajaan Buddha memiliki dampak vital bagi Indonesia, terutama di bidang maritim, penjelajahan laut, serta politik, budaya, dan ekonomi.

Simak tiga kerajaan Buddha terbesar di Indonesia, lengkap dengan fakta-fakta masa kejayaannya hingga peninggalan kerajaan masing-masing.
 

Kerajaan Sriwijaya


Candi Muara Takus. (lostasianguy.wordpress.com)

Menempati peringkat pertama adalah Kerajaan Sriwijaya, sebuah pusat bagi ilmu pengetahuan serta agama Buddha di Timur. Terletak di Palembang, Sumatera Selatan, kerajaan ini berada di tepi Sungai Musi. Kerajaan Sriwijaya merupakan tempat yang sarat akan sejarah.

Melansir Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, pada zaman kejayaannya, Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan maritim yang dominan dalam perdagangan di wilayah Asia Tenggara dari abad ke abad, utamanya dari abad ke-8 hingga ke-10.

Dengan lokasi strategis di sepanjang jalur pelayaran Selat Malaka, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat bagi perdagangan internasional, khususnya antara Tiongkok, India, dan Timur Tengah.

Tidak hanya kuat dalam perdagangan, kekuatan militer Sriwijaya juga sangat disegani pada masa kejayaannya. Sriwijaya dibekali dengan armada laut yang menguasai jalur perdagangan dan memungut pajak bagi kapal-kapal yang melintasi wilayahnya.

Dalam sejarah, sosok I-Tsing, seorang biksu dari Tiongkok, singgah di kerajaan ini diperkirakan pada tahun 671 Masehi dalam perjalanannya ke India. I-Tsing menulis dan mendeskripsikan Kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah negara yang maju, sehingga para pelajar dari negara asalnya patut untuk menuntut ilmu di sana.

I-Tsing menuliskan bahwa Kerajaan Sriwijaya kaya akan pelajar dan biksu yang berdedikasi kepada ilmu agama Buddha.

Di zaman modern sekarang, Kerajaan Sriwijaya masih memberikan kontribusi langsung melalui aspek bahasa serta nilai-nilai yang berasal dari masa kejayaannya. Contohnya, bahasa Melayu Kuno yang diterapkan di prasasti menjadi cikal bakal bagi bahasa Indonesia modern yang digunakan oleh mayoritas masyarakat saat ini.

Selain itu, Kerajaan Sriwijaya mewariskan nilai kemaritiman, keterbukaan, dan kegigihan pelajar yang dapat direfleksikan di zaman sekarang.
 

Kerajaan Kalingga

Menempati peringkat kedua adalah Kerajaan Kalingga yang diperkirakan terletak di daerah pantai bagian utara Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Jepara. Namun, tidak terdapat kepastian tetap dalam sejarah mengenai letak persisnya.

Dikenal juga sebagai Holing, Kerajaan Kalingga pertama kali berdiri diperkirakan pada abad ke-5 atau ke-6, dan merupakan sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang bangkit tidak lama sebelum Kerajaan Sriwijaya.

Pada masa kejayaannya di tahun 674 Masehi, pemerintahan Kerajaan Kalingga di bawah Ratu Shima terkenal sangat tegas, di mana para penduduk wajib mengikuti segala hukum dan aturan yang ditetapkan.
 
Baca Juga:
Jejak Kerajaan Kanjuruhan yang Diabadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Malang

Salah satunya adalah hukuman potong tangan bagi pelaku pencurian. Saking ketatnya pengelolaan sang ratu tanpa pengecualian, Ratu Shima bahkan tercatat menghukum anak lelakinya sendiri karena sebuah pelanggaran.

Namun, selain aspek hukum, Kerajaan Kalingga juga kaya dalam pendidikan dengan lembaga-lembaga yang saking majunya didatangi oleh pendeta internasional untuk mempelajari ilmu agama Buddha.

Aspek perdagangan pun dikuasai di bawah pemerintahan Ratu Shima; Kerajaan Kalingga memperoleh kekuasaan di sepanjang jalur perdagangan pesisir bagian utara Jawa.

Namun sayangnya, di tengah kekuasaannya, Kalingga menghadapi persaingan dengan Kerajaan Sriwijaya hingga terkena serangan yang melemahkan kejayaannya. Dari situ, diperkirakan pada tahun 742 Masehi hingga 755 Masehi, Kerajaan Kalingga mengalami keruntuhan setelah berpindah ke bagian timur.

Hingga sekarang, Kerajaan Kalingga meninggalkan warisan peninggalan historis yang terdeteksi sebagai berikut:
  • Prasasti Sojomerto - Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Batang, Jawa Tengah.
  • Candi Angin - Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
  • Candi Bubrah - Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
  • Puncak Sanga Likur - Puncak Gunung Muria, Puncak Rahtawu, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
  • Prasasti Tukmas - Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah (lereng Gunung Merapi).
     

Kerajaan Sri Bangun

Terakhir, menempati peringkat ketiga adalah Kerajaan Sri Bangun. Terletak di sekitar wilayah Sungai Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, kerajaan ini pertama kali bangkit sekitar abad ke-10.

Kerajaan Sri Bangun adalah sebuah kerajaan Buddha kuno yang dipercaya menjalani kehidupan yang harmonis dan menetap dengan sistem religius dalam pemerintahannya. Kerajaan ini juga diperkirakan sebagai sebuah wilayah bawahan dari Kerajaan Martadipura.

Di masa aktifnya, situs strategis kerajaan di bawah pemerintahan Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin dimanfaatkan sebagai tempat pertahanan bagi pasukan yang terdesak di tengah perang melawan pasukan Belanda. Di hunian tersebut dibangun kubu-kubu pertahanan serta bangunan istana sementara.

Hingga zaman sekarang, wilayah bekas Kerajaan Sri Bangun ditempati oleh penduduk Kutai Kartanegara. Penduduk setempat memiliki kepercayaan mistis mengenai eksistensi kerajaan tersebut.

Para penduduk di sana melaporkan pernah menyaksikan bayangan-bayangan di dalam istana hingga di wilayah sekitarnya, bahkan terdapat laporan mengenai penduduk yang menghilang secara misterius.

Selain memiliki kisah-kisah lisan, Kerajaan Sri Bangun meninggalkan warisan sejarah sebagai berikut:
  • Arca Buddha Penggembala: Situs Sri Bangun, Kutai Kartanegara.
  • Patung Lembu Nandi atau Singa Noleh: Sungai Mahakam, Situs Sri Bangun, Kutai Kartanegara.
(Odetta Aisha Amrullah)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)