Kemlu Imbau WNI Tingkatkan Kewaspadaan Terkait Tawaran Kerja di Wilayah Konflik

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang. Foto: Metrotvnews.com

Kemlu Imbau WNI Tingkatkan Kewaspadaan Terkait Tawaran Kerja di Wilayah Konflik

Muhammad Reyhansyah • 17 September 2026 23:16

Jakarta: Munculnya kabar keberadaan warga negara Indonesia (WNI) di Rusia yang direkrut menjadi tentara, menjadi perhatian lebih dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang meminta WNI untuk lebih hati-hati dalam memilih pekerjaan di luar negeri, mengingat delapan WNI yang menjadi tentara rekrutan itu dikabarkan ditawari pekerjaan lain sebelum ditarik menjadi tentara Rusia.

Yvonne menegaskan, proses penanganan kasus ini tidak dapat dilakukan secara sederhana karena memerlukan verifikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak.

“WNI agar berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di wilayah konflik maupun pekerjaan yang berpotensi melibatkan mereka dalam kegiatan militer negara asing,” sebut Yvonne, dalam Press Briefing Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Kamis 17 September 2026.

“Kita melakukan penelusuran dan verifikasi secara komprehensif terkait isu ini,” kata Yvonne.

Selain itu, Kemlu mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, atau perekrutan melalui tawaran pekerjaan yang menyesatkan. Apabila terdapat WNI yang menjadi korban, pemerintah akan mengambil langkah-langkah pelindungan yang diperlukan.

Apabila keterlibatan WNI dalam militer negara asing tersebut terverifikasi, Yvonne menegaskan bahwa hal itu merupakan tindakan individual dan tidak merepresentasikan kebijakan pemerintah Indonesia.

Kirim pesan

Sebelumnya salah satu dari delapan warga negara Indonesia yang diduga direkrut menjadi tentara Rusia mengirim pesan kepada Jubir Yvonne Mewengkang.

Yvonne mengatakan, pesan tersebut disampaikan melalui nomor pribadinya selaku jubir Kemlu. Namun, hingga kini Kementerian Luar Negeri belum menerima surat resmi yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri RI.

“Sampai saat ini kita tidak menerima surat resmi untuk Menteri Luar Negeri RI, tapi ada satu (pesan) WhatsApp yang notabene dari WNI tersebut ke nomor pribadi saya sebagai jubir, menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri,” kata Yvonne.

Yvonne mengatakan pesan tersebut mungkin dapat dianggap sebagai surat. Meski demikian, pemerintah masih perlu melakukan penelusuran dan verifikasi lebih lanjut terkait informasi tersebut.

Sebelumnya, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (SZRU) mengklaim telah memperoleh dokumen mengenai sedikitnya delapan WNI yang disebut direkrut ke dalam angkatan bersenjata Rusia untuk terlibat dalam perang melawan Ukraina.

Ukraina juga menuding Rusia merekrut warga asing dengan menawarkan berbagai imbalan, seperti gaji tinggi, tugas non-tempur, percepatan kewarganegaraan Rusia, dan tunjangan sosial.

(Fajar Nugraha)