Ilustrasi. Foto: dok Pertamina Patra Niaga.
Pemerintah Jaga Tarif BBM dan Listrik Subsidi Meski Harga Minyak Naik
Husen Miftahudin • 18 September 2026 14:27
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan skema belanja subsidi energi, khususnya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tarif dasar listrik, tetap dipertahankan secara stabil. Kebijakan ini diambil sebagai langkah intervensi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak harga komoditas global.
Meskipun pergerakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) hingga Agustus 2026 menyentuh rata-rata USD89,2 per barel atau di atas asumsi awal APBN sebesar USD70 per barel, pemerintah memilih untuk menahan transmisi kenaikan tersebut ke harga eceran masyarakat. Skema set-off atau kompensasi belanja subsidi dilakukan dengan memanfaatkan kenaikan pendapatan negara dari sektor komoditas.
"Untuk harga-harga barang yang diatur oleh pemerintah, administered price inflation-nya itu tetap stabil dengan adanya kebijakan pengendalian harga di tengah-tengah masyarakat. Termasuk harga BBM bersubsidi, harga listrik, tarif dasar listrik dan yang lain-lain yang diatur harganya oleh pemerintah," ungkap Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 18 September 2026.
Langkah stabilisasi harga ini dinilai terbukti efektif dalam menjaga laju inflasi domestik pada tingkat yang terkendali, yakni sebesar 3,19 persen di Agustus 2026. Angka tersebut masih berada dalam kisaran target sasaran pemerintah dan Bank Indonesia.
(Menkeu Suahasil Nazara saat memimpin konferensi Pers APBN KiTa Edisi September 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari)
Jaga daya beli masyarakat
Kebijakan perlindungan daya beli melalui subsidi energi terbukti memberikan dampak positif terhadap pergerakan ekonomi di tingkat akar rumput. Berbagai indikator konsumsi masyarakat tercatat tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang solid dan sehat hingga kuartal III-2026.
Pertumbuhan aktivitas ekonomi masyarakat tercermin dari tingginya indeks keyakinan konsumen, tingkat penjualan riil, hingga peningkatan konsumsi listrik dan semen. Menkeu Suahasil menilai stabilitas harga energi menjadi jangkar utama bagi keberlangsungan aktivitas transaksi serta ekspansi sektor riil di dalam negeri.
"Ini adalah angka-angka yang cukup memberikan confidence kepada kita perekonomian Indonesia itu stay resilient. Gerak di masyarakat, transaksi yang ada di masyarakat. Gerak investasi, gerak konsumsi, dan seterusnya," tambah Suahasil.
Dengan menjaga kesinambungan APBN dan fleksibilitas alokasi subsidi, pemerintah optimistis dapat terus melindungi ketahanan ekonomi rumah tangga sekaligus meredam risiko stagflasi global hingga akhir tahun.