Trump Ancam Hancurkan Pulau Kharg Jika Kesepakatan Damai dengan Iran Tak Tercapai

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Trump Ancam Hancurkan Pulau Kharg Jika Kesepakatan Damai dengan Iran Tak Tercapai

Muhammad Reyhansyah • 31 March 2026 12:44

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan Pulau Kharg beserta sumur minyak dan pembangkit listriknya jika Iran tidak segera menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel.

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Senin, 30 Maret, Trump menyatakan harapannya terhadap kemungkinan pembicaraan dengan “rezim yang lebih rasional” di Teheran, yang mengindikasikan kemungkinan perubahan kepemimpinan di Iran.

Namun, ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, termasuk pembukaan kembali jalur pelayaran penting di Selat Hormuz, maka pasukan AS akan menghancurkan “seluruh pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg (dan mungkin seluruh fasilitas desalinasi mereka).”

Para ahli menilai bahwa penghancuran infrastruktur sipil seperti fasilitas listrik dan air dapat melanggar hukum humaniter internasional dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Dilansir dari France24, Selasa, 31 Maret 2026, Iran sebelumnya juga mengancam akan membalas dengan menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas air di negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, seperti Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Arab Saudi.

Sebagai bentuk respons, sebuah komite parlemen Iran menyetujui rencana untuk mengenakan biaya terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Televisi pemerintah Iran bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel akan dilarang melintasi jalur tersebut, memicu kemarahan Washington yang mempertimbangkan pembentukan koalisi untuk menentangnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan, “Tidak ada satu pun negara di dunia yang dapat menerima hal ini,” seraya menambahkan bahwa langkah tersebut menciptakan preseden berbahaya bagi penguasaan jalur perairan internasional.

Dampak Ekonomi dan Energi

Kekhawatiran terhadap eskalasi konflik, termasuk kemungkinan operasi darat AS atau serangan balasan Iran, mengguncang pasar keuangan dan energi global.

Para menteri ekonomi dan bank sentral dari negara-negara G7 berkumpul di Paris untuk membahas dampak konflik tersebut, sementara sejumlah negara mulai menerapkan langkah penghematan energi atau memangkas pajak bahan bakar guna melindungi konsumen.

Analis memperingatkan bahwa konflik yang meluas dapat mendorong harga minyak ke level tertinggi sejak lonjakan komoditas pada 2008, ketika harga minyak Brent mendekati 150 dolar AS per barel.

Saat ini, harga minyak Brent telah melonjak hampir 60 persen sepanjang bulan ini, sementara minyak acuan AS, WTI, naik lebih dari 50 persen.

Risiko tambahan juga muncul dari kelompok Houthi di Yaman yang meluncurkan rudal dan drone ke Israel, serta ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah dan Terusan Suez.

Analis Chris Weston menyebut kemampuan kelompok tersebut mengganggu Selat Bab al-Mandeb—jalur yang mencakup sekitar 12 persen perdagangan global—sebagai risiko baru yang signifikan.

Eskalasi Militer Meluas

Konflik di lapangan terus berlanjut tanpa tanda mereda. Israel melaporkan telah merespons serangan rudal dari Iran, sekaligus melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer di Teheran, termasuk Universitas Imam Hossein yang disebut digunakan untuk penelitian senjata oleh Garda Revolusi Iran.

Di wilayah lain, kebakaran dilaporkan terjadi di kilang minyak di kota pelabuhan Haifa, Israel utara. Sementara itu, Kuwait mengecam serangan terhadap pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi yang menewaskan seorang pekerja asal India.

Di Lebanon, serangan Israel berlanjut di Beirut selatan dan wilayah selatan negara tersebut, termasuk serangan terhadap pos pemeriksaan militer yang menewaskan seorang tentara.

Pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon selatan melaporkan dua personelnya tewas akibat ledakan yang belum diketahui penyebabnya, sementara satu personel lainnya tewas sehari sebelumnya, termasuk seorang tentara asal Indonesia.

Di sisi diplomasi, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mendesak Trump untuk membantu menghentikan konflik.

“Tolong, bantu kami menghentikan perang ini. Anda mampu melakukannya,” ujarnya dalam konferensi pers bersama Presiden Siprus, Nikos Christodoulides, di Kairo.

Sementara itu, Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa Washington hanya menyampaikan permintaan dialog melalui perantara, termasuk Pakistan.

Di tengah konflik yang berkepanjangan, kehidupan di Teheran dilaporkan masih berjalan meski di bawah tekanan. Warga tetap beraktivitas, dengan kafe dan restoran beroperasi, meskipun pengamanan diperketat di berbagai titik kota.

“Saat saya duduk di kafe, meski hanya beberapa menit, saya hampir bisa percaya dunia belum berakhir,” ujar seorang warga Teheran bernama Fatemeh. “Namun ketika kembali ke rumah, saya kembali menghadapi kenyataan hidup di tengah perang dengan segala beban dan kegelapannya.”

Baca juga:  Trump Pertimbangkan Opsi Militer Ambil Alih Pulau Kharg Iran

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)