Juru bicara Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII Sugiat Santoso. Foto: Istimewa.
Gerindra: Prabowo Jaga Potensi Diaspora
Anggi Tondi Martaon • 16 August 2026 18:32
Jakarta: Juru bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso menyebut usulan Dwi Kewarganegaraan merupakan bentuk kepedulian dari Presiden Prabowo Subianto terhadap diaspora. Sebab, banyak diaspora yang berprestasi harus rela melepas status Warga Negara Indonesia (WNI) demi tuntutan karir.
"Negara tidak boleh lagi memaksa anak-anak bangsa yang hebat untuk memelihara dilema antara mengejar karier internasional dan kecintaan mereka pada Tanah Air," ucap Sugiat melalui keterangan tertulis dikutip Minggu, 16 Agustus 2026.
Sugiat mengatakan, usulan Presiden itu bersifat sangat selektif dan spesifik. Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu menyebut usulan tersebut ditujukan untuk talenta tertentu yang betul-betul dibutuhkan untuk percepatan pembangunan nasional.
"Pemerintah tentu akan merancang regulasi dengan mekanisme screening ketat, uji integritas, serta penentuan kewajiban yang jelas tanpa mengorbankan kedaulatan atau keamanan nasional," ungkap Sugiat.
Menurut Sugiat, saat ini banyak negara berkembang memenangi kompetisi global karena berhasil menarik kembali diaspora mereka. Dia menyebutkan kebijakan Prabowo ini adalah langkah strategis agar talenta top dunia berdarah Indonesia dapat berkontribusi langsung pada industri strategis nasional.
"Kami menghormati pandangan kritis dari para akademisi hukum internasional. Justru karena itulah usulan ini dibawa ke ranah legislatif (DPR) untuk digodok bersama," sebut Sugiat.
"Pemerintah tidak mengambil jalan pintas. Menteri Hukum (Supratman Andi Agtas) yang merupakan kader Partai Gerindra telah menegaskan bahwa proses ini akan ditempuh melalui Revisi UU No. 12 Tahun 2006 bersama DPR RI," ujar Sugiat.
"Seluruh proses akan dilakukan secara transparan, partisipatif, serta mengutamakan kepentingan nasional di atas segalanya," imbuh anggota DPR dari Fraksi Gerindra ini.
Sugiat menjelaskan, Presiden Prabowo tidak sedang membuka pintu kewarganegaraan ganda secara luas tanpa aturan. Prabowo disebut Sugiat ingin memberi jalan bagi anak bangsa yang genius dan berprestasi di luar negeri agar tetap bisa pulang dan membangun Indonesia tanpa kehilangan ikatan hukum dengan Tanah Airnya.
"Data menunjukkan ribuan anak muda berpotensi Indonesia setiap tahunnya berpindah kewarganegaraan ke negara tetangga karena tuntutan pekerjaan dan fasilitas. Kebijakan kewarganegaraan ganda terbatas ini adalah benteng preventif agar Indonesia tidak terus-menerus kehilangan SDM berkualitas tinggi (brain drain)," tuturnya.
Sugiat kemudian memberikan contoh India yang tidak memberikan hak pilih politik, tetapi memberikan status OCI kepada diasporanya. Hal ini disebut membuat India menjadi salah satu pusat teknologi dunia karena para insinyur dan CEO berdarah India di Silicon Valley dengan mudah berinvestasi, membuka kantor riset, dan mentransfer teknologi ke India tanpa hambatan birokrasi.
.jpeg)
Presiden Prabowo Subianto. Foto: Tangkapan layar.
"Filipina mengizinkan warga keturunannya mempertahankan kewarganegaraan asal. Kebijakan ini terbukti mendongkrak kontribusi remittance (aliran dana dari luar negeri) dan memicu gelombang investasi ekonomi dari diaspora ke dalam negeri," jelas Sugiat.
Sugiat kemudian menyinggung Korea Selatan dan Vietnam melonggarkan aturan kewarganegaraan bagi ilmuwan, akademisi, dan diaspora berprestasi.
"Hal itu untuk mempercepat kemandirian industri teknologi tinggi dan riset nasional mereka," tambah Sugiat
Sugiat mengatakan persaingan global saat ini bukan lagi sekadar perebutan sumber daya alam. Melainkan war for talent (perebutan talenta unggul).
Dia menyampaikan, seorang pakar atau pengusaha berdarah Indonesia yang sukses di luar negeri akan lebih percaya diri menanamkan modal dan membangun fasilitas riset atau pabrik di Indonesia jika status hukum mereka diakui dan dilindungi secara efisien oleh negara.
"Ketika talenta kelas dunia (seperti peneliti medis atau ahli AI) pulang dan berkarya di Indonesia, mereka bukan hanya membawa keahlian, tetapi juga membuka ekosistem baru, laboratorium baru, dan lapangan kerja baru bagi jutaan tenaga kerja lokal," kata Sugiat.