Harga Emas Diproyeksi Melemah, Investor Waspadai Tekanan Jual

Ilustrasi. Foto: Dok istimewa

Harga Emas Diproyeksi Melemah, Investor Waspadai Tekanan Jual

Eko Nordiansyah • 5 June 2026 11:20

Jakarta: Harga emas dunia masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026 seiring dominasi sentimen bearish yang terlihat dari kombinasi indikator teknikal dan faktor fundamental.

Pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 menunjukkan peluang penurunan harga masih cukup terbuka setelah pasar gagal mempertahankan momentum kenaikan yang sempat terjadi sebelumnya.

Berdasarkan analisis Dupoin Futures oleh Geraldo Kofit, secara teknikal, harga emas saat ini dinilai telah menyelesaikan fase secondary trend atau koreksi naik, dan kembali bergerak mengikuti arah tren utama yang masih cenderung menurun.

"Kondisi tersebut terlihat dari pergerakan harga yang terus tertahan di bawah Moving Average (MA) 21 dan MA 50, yang saat ini berfungsi sebagai area dynamic resistance," kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat, 5 Juni 2026.

Menurut Geraldo, kegagalan harga menembus kedua area resistance tersebut menjadi sinyal tekanan beli belum cukup kuat untuk mengubah arah tren yang sedang berlangsung. Sebaliknya, kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih lebih banyak melakukan aksi jual dibandingkan pembelian.

Selain tertahan oleh area resistance, harga juga membentuk swing high yang valid. Dalam analisis teknikal, pembentukan swing high sering dianggap sebagai tanda pasar masih berada dalam fase bearish. Pola ini menunjukkan setiap upaya kenaikan harga masih menghadapi tekanan jual yang cukup besar, sehingga sulit melanjutkan penguatan secara berkelanjutan.

"Tekanan jual tersebut bahkan terlihat semakin dominan pada sesi perdagangan pagi, ketika harga bergerak turun dengan cukup agresif. Situasi ini memperkuat pandangan bahwa tren turun masih menjadi skenario utama yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar dalam jangka pendek," ujar dia.



(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Dukungan terhadap skenario bearish

Saat ini indikator tersebut masih bergerak turun dan mengarah ke area oversold atau jenuh jual. Meskipun area oversold sering dikaitkan dengan peluang rebound, kondisi saat ini menunjukkan bahwa momentum pelemahan masih cukup kuat dan belum terlihat sinyal pembalikan arah yang meyakinkan.

"Selama harga masih bergerak di bawah area Moving Average 21 dan 50, peluang pelemahan lanjutan dinilai tetap terbuka. Oleh karena itu, pelaku pasar masih perlu mewaspadai kemungkinan berlanjutnya tekanan jual dalam beberapa sesi perdagangan mendatang," jelas dia.

Dari sisi fundamental, sentimen yang berkembang di pasar juga belum sepenuhnya mendukung penguatan harga emas. Investor saat ini masih bersikap hati-hati terhadap berbagai perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi arah pasar keuangan.

"Kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor. Ketika muncul ketidakpastian terkait kondisi ekonomi, pelaku pasar biasanya akan melakukan penyesuaian portofolio dan mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi," ungkapnya.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter

Investor masih memperkirakan bank sentral akan mempertahankan kebijakan suku bunga yang relatif ketat dalam jangka waktu yang lebih lama. Harapan tersebut muncul karena inflasi di sejumlah negara masih menjadi perhatian, sehingga ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter dinilai belum terlalu besar.

Kebijakan suku bunga yang tinggi biasanya memberikan keuntungan bagi aset berbasis imbal hasil, sementara daya tarik emas sebagai aset non-yielding menjadi relatif berkurang. Kondisi inilah yang dalam beberapa waktu terakhir turut membatasi ruang penguatan harga logam mulia.

Di sisi lain, investor juga terus mencermati berbagai data ekonomi terbaru yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan bank sentral ke depan. Jika data ekonomi menunjukkan kondisi yang masih cukup kuat, maka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan semakin besar dan dapat memberikan tekanan tambahan bagi harga emas.

"Kombinasi antara sentimen fundamental tersebut dan sinyal teknikal yang masih negatif membuat prospek emas dalam jangka pendek cenderung berhati-hati. Dominasi seller yang masih terlihat di pasar menunjukkan tekanan jual belum sepenuhnya mereda," kata Geraldo.

Secara keseluruhan, analisis Dupoin Futures menilai bahwa tren bearish masih menjadi skenario utama untuk pergerakan XAU/USD saat ini. Selama harga belum mampu menembus area resistance penting yang dibentuk oleh MA 21 dan MA 50, peluang pelemahan lanjutan masih terbuka.

"Pelaku pasar pun disarankan untuk mencermati perkembangan sentimen global, kebijakan moneter, serta dinamika pasar keuangan yang dapat menjadi penentu arah pergerakan emas berikutnya," ujar dia.

(Eko Nordiansyah)