Puan: Grand Design Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah Diperlukan

Ketua DPR Puan Maharani. Foto: Dok. Istimewa.

Puan: Grand Design Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah Diperlukan

Fachri Audhia Hafiez • 28 July 2026 21:43

Jakarta: Ketua DPR Puan Maharani mendorong pemerintah segera menyusun Grand Design Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah hingga 2045. Peta jalan lintas sektor ini dinilai penting untuk menyatukan kebijakan pendidikan, perlindungan sosial, pembangunan keluarga, ketenagakerjaan, hingga pembangunan daerah.

Grand design tersebut perlu memuat target nasional yang terukur, pembagian tanggung jawab yang jelas, mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan, hingga sistem akuntabilitas yang memastikan tidak ada anak yang keluar dari sistem pendidikan tanpa diketahui dan tanpa diintervensi oleh negara,” kata Puan dikutip melalui keterangan tertulis, Selasa, 28 Juli 2026.
 


Mantan Menko PMK itu menegaskan, keberhasilan pembangunan sumber daya manusia (SDM) tidak cukup diukur dari meningkatnya angka partisipasi sekolah semata. Namun, kemampuan negara memastikan setiap anak bertahan hingga menyelesaikan pendidikan dan memiliki bekal untuk memasuki kehidupan yang produktif turut diperlukan.

Langkah strategis ini diusulkan Puan menanggapi temuan maraknya Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di daerah. Salah satunya di Kota Bogor, Jawa Barat, yang mana angka ATS dan anak putus sekolah menembus 6.000 anak.

Berdasarkan temuan Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FKBM) Kota Bogor, fenomena putus sekolah ini ternyata tidak didominasi masalah akses atau biaya, melainkan rendahnya kemauan anak untuk belajar. Upaya pendataan dan ajakan kembali bersekolah pun sering kali mendapat penolakan. Di Kelurahan Tegallega misalnya, dari 141 data ATS, hanya 35 anak yang bersedia kembali masuk lembaga pendidikan.


Ilustrasi pendidikan. Foto: Pexels.com.

Secara nasional, data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat angka ATS di Indonesia telah mencapai 3.966.858 atau hampir 4 juta orang. Rinciannya, kategori Belum Pernah Bersekolah (BPB) sebanyak 1.913.633 anak, Drop Out/Dikeluarkan (DO) 986.755 orang, serta Lulus Tidak Melanjutkan (LTM) berjumlah 1.066.470 orang.

Melihat kondisi tersebut, Puan menilai tantangan pendidikan hari ini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan ketersediaan sekolah atau bantuan biaya, melainkan persoalan dalam menjaga mimpi dan cita-cita generasi muda.

“Tantangan yang jauh lebih besar adalah memastikan setiap anak tetap memiliki keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik untuk membangun masa depan mereka. Jika kondisi ini dibiarkan, yang hilang bukan hanya kesempatan belajar seorang anak, tetapi juga kualitas SDM yang menentukan masa depan Indonesia,” kata Puan.

(Fachri Audhia Hafiez)