Pengaturan 3S Dinilai Bisa Batasi Akses Digital Anak di Sekolah

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikdasmen Gogot Suharwoto. (ANTARA/Livia Kristianti)

Pengaturan 3S Dinilai Bisa Batasi Akses Digital Anak di Sekolah

Achmad Zulfikar Fazli • 20 May 2026 23:38

Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan pengaturan 3S bisa diterapkan untuk membatasi akses digital anak-anak di lingkungan sekolah. Pengaturan 3S mencakup screen time (waktu layar), screen zone (zona layar), dan screen break (jeda layar).

"S pertama ada screen time. Jadi waktu yang tepat kapan anak-anak bisa menggunakan gadget," kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Gogot Suharwoto, dalam acara Bisnis Indonesia Forum bertajuk "Beyond Regulation: Masa Depan Pelindungan Anak di Ruang Digital" di Jakarta, dilansir dari Antara, Rabu, 20 Mei 2026.

Menurut dia, sudah banyak sekolah yang meminta peserta didik untuk menitipkan gawai kepada pengelola sekolah selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Sebagian sekolah hanya memperbolehkan siswa menggunakan gawai jika diperlukan untuk keperluan pembelajaran untuk membatasi penggunaan perangkat digital di lingkungan sekolah.

"Ketentuan ini bisa dilakukan sekolah secara mandiri tanpa perlu instruksi khusus dari menteri. Intinya untuk memastikan pelindungan anak di ruang digital, tentu ini sangat boleh (diterapkan)," kata Gogot.

Ilustrasi belajar mengajar di sekolah. Dok Kemendikdasmen

Baca Juga: 

200 Ribu Anak RI Terpapar Praktik Judi Online, Paparan Diduga dari Iklan Terselubung

Gogot mengatakan dalam upaya pengaturan screen zone, sekolah dapat mengajari siswa mengenali ruang-ruang digital yang aman untuk diakses serta norma dalam melakukan interaksi sosial di ruang digital. Pengaturan screen zone dapat dijalankan dengan memberlakukan area bebas gawai di area sekolah seperti perpustakaan dan tempat makan.

Sementara itu, pengaturan screen break dijalankan untuk melatih anak menjeda penggunaan gawai supaya bisa fokus belajar di sekolah. Semasa jeda menggunakan gawai, anak-anak bisa diminta melakukan aktivitas fisik ringan seperti peregangan tangan, leher, dan bahu.

Gogot juga menyampaikan perlunya pengaturan 3S bagi anak selama di rumah. "Jadi, jangan sampai kami di sekolah sudah mengatur lewat screen time, screen zone, dan screen break tapi di rumah dibebaskan. Ini akan jadi konflik bagi anak-anak, karena dia akhirnya mencari pembenaran," kata Gogot.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)