Direktur Utama PT PAM JAYA Arief Nasrudin hadir sebagai pembicara dalam Metro TV Green Summit 2026 pada Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: Metrotvnews/Duta Erlangga)
Metro TV Green Summit 2026: PAM JAYA Dorong Penghentian Eksploitasi Air Tanah demi Keberlanjutan Lingkungan
Patrick Pinaria • 23 January 2026 17:45
Jakarta: Isu krisis air bersih dan eksploitasi air tanah menjadi sorotan dalam rangkaian acara Metro TV Green Summit 2026 yang digelar sebagai forum strategis transformasi ekonomi hijau menuju Indonesia Emas 2045. Isu krisis air bersih ini mendapat perhatian dari PAM JAYA. Mereka pun turut angkat bicara mengenai isu tersebut.
Metro TV Green Summit 2026 berlangsung pada Kamis, 22 Januari 2026, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta. Forum ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk menjembatani kebijakan, inovasi, dan investasi hijau, sekaligus mendukung komitmen pemerintah menuju Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Mengusung tema “Bridging Policy, Innovation and Investment for a Sustainable Economy Transformation,” Green Summit 2026 membahas empat pilar utama ekonomi hijau, yakni kesejahteraan, keadilan, batas planet, serta efisiensi dan kecukupan.
Diskusi digelar melalui rangkaian round table discussion, talk show, dan sesi tanya jawab yang terbagi dalam tiga sesi utama, yaitu Green Environment, Green Energy, dan Green Financing.
Direktur Utama PT PAM JAYA Arief Nasrudin hadir dalam sesi Green Environment. Pada kesempatan itu, ia menekankan bahwa air merupakan salah satu elemen lingkungan yang paling kuat memengaruhi keberlanjutan kehidupan.
"Saya ingin menyampaikan juga, saya mengutip lagi apa yang disampaikan Prof Emil tadi, salah satu lingkungan yang paling kuat mempengaruhi itu adalah air," ujar Arief.
Ia menjelaskan fokus PAM JAYA saat ini masih berada pada penyelesaian pipanisasi di Jakarta sebagai bagian dari upaya menjadikan kota ini sebagai pusat keunggulan pengelolaan air bersih.

(Foto: Metrotvnews/Duta Erlangga)
Menurut Arief, tantangan besar Jakarta terletak pada upaya mengolah air dari 13 sungai menjadi air siap minum atau setidaknya air bersih berkualitas. Proses tersebut membutuhkan usaha besar di tengah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
"Ternyata memang masyarakat kita itu masih belum optimis dalam volume yang cukup besar untuk menyadarkan dirinya terhadap lingkungan," katanya.
Ia menyoroti kebiasaan penggunaan air yang boros, termasuk pembiaran kebocoran keran, yang menurutnya menghasilkan pemborosan luar biasa. Sementara itu, alam membutuhkan waktu yang panjang untuk memproses air menjadi bersih dan layak digunakan.
Arief mengingatkan eksploitasi air tanah di Jakarta telah berlangsung secara masif dan berdampak langsung terhadap kondisi lingkungan.
"Kalau kita tidak segera menyelamatkan air dari eksploitasi yang berlebihan, secara otomatis buminya akan sinking, daratannya sinking, lautnya nanti akan mulai naik. Dan ini terjadi sudah di North Jakarta dan West Jakarta, yang kemudian robnya terjadi," ungkapnya.
Ia juga menyampaikan data penurunan muka tanah Jakarta yang mencapai 12 sentimeter per tahun, yang berpotensi menimbulkan dampak serius dalam jangka panjang.
"Jadi prediksi sampai 2050, terakhir mantan Presiden Amerika, Biden, menyampaikan Jawa bisa tenggelam, itu faktanya sebenarnya bisa terjadi. Karena secara statistik, 12 cm tiap tahun permukaan tanah turun," jelas Arief.

(Foto: Metrotvnews/Duta Erlangga)
Arief menegaskan PAM JAYA tidak pernah mengeksploitasi air tanah dan seluruh pasokan air PAM berasal dari air sungai.
"PAM tidak pernah eksploitasi air tanah. Kita mengolah air yang ada di sungai. Ini orang di Jakarta yang bukan PAM yang menggunakan itu," tegasnya.
Ia menyebutkan bahwa tantangan utama dalam mendorong penggunaan air perpipaan adalah penegakan hukum dan kesadaran masyarakat.
"Dua hal sebenarnya. Satu, tadi saya sekali lagi setuju dengan Pak Wamen, law enforcement kita masih banyak irisan kepentingan," ujarnya.
Arief kembali menegaskan bahwa yang berbahaya bukanlah air tanah itu sendiri, melainkan cara penggunaannya yang berlebihan.
"Menggunakan air tanah sebenarnya air tanahnya tidak berbahaya. Tapi cara menggunakannya yang berlebihan itu akan menjadi berbahaya," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa eksploitasi air tanah berlebihan berkontribusi terhadap penurunan muka tanah dan berpotensi membuat Jakarta serta wilayah pesisir utara Pulau Jawa semakin rentan terhadap rob.

(Foto: Metrotvnews/Duta Erlangga)
Arief menyampaikan bahwa PAM JAYA menargetkan penyelesaian pipanisasi pada 2029 dengan total panjang pipa mencapai 16.000 kilometer.
"Makanya Pak Gubernur kami sampaikan 2029 ini harus selesai semuanya. Jadi total nanti panjang pipa kita akan di 16.000 km," katanya.
Terkait ketersediaan air minum, Arief menyebutkan bahwa air PAM JAYA saat ini sudah drinkable water, meski rehabilitasi pipa masih terus dilakukan.
"Jadi air kami yang kita proses saat ini sudah drinkable water sebenarnya. Memang pipanya yang saat ini belum food grade," jelasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk menggunakan air PAM setelah jaringan terpasang sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan sejalan dengan prinsip ESG.
Metro TV Green Summit 2026 menjadi forum strategis yang mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor untuk membahas isu lingkungan, energi, dan pembiayaan berkelanjutan, dengan pengelolaan air sebagai salah satu elemen krusial dalam menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.