HUT ke-71 Lalu Lintas, Kapolda Riau Dorong Polantas Jadi Garda Edukasi Lingkungan

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan bersama jajaran dalam peringatan HUT ke-71 Lalu Lintas Bhayangkara di Pekanbaru. (Foto: Ist)

HUT ke-71 Lalu Lintas, Kapolda Riau Dorong Polantas Jadi Garda Edukasi Lingkungan

Patrick Pinaria • 22 September 2026 16:30

Pekanbaru: Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Lalu Lintas Bhayangkara menjadi momentum bagi Polda Riau untuk memperluas peran polisi lalu lintas. Tak hanya mengatur arus kendaraan dan menjaga keselamatan pengguna jalan, Polantas juga didorong ikut menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat menjaga lingkungan.

Pesan tersebut disampaikan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan saat menghadiri doa bersama dan syukuran HUT ke-71 Lalu Lintas Bhayangkara di lingkungan Polda Riau, Selasa, 22 September 2026. Mengusung tema 'Polantas Presisi, Mengabdi untuk Negeri', kegiatan tersebut menjadi refleksi perjalanan panjang Korps Lalu Lintas sekaligus penegasan komitmen meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Herry menegaskan, 71 tahun pengabdian Korps Lalu Lintas harus terus dibarengi dengan integritas. Menurutnya, kepercayaan masyarakat kepada polisi hanya dapat dipertahankan melalui integritas, kecepatan merespons kebutuhan masyarakat, serta kehadiran yang humanis.


Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menyampaikan sambutan dalam peringatan HUT ke-71 Lalu Lintas Bhayangkara. (Foto: Ist)

"71 tahun merupakan perjalanan panjang pengabdian dari Korps Lalu Lintas Polri dan sejarah tersebut membentuk kepercayaan masyarakat. Namun, kepercayaan hanya dapat kita jaga melalui integritas, sekali lagi integritas," tegas Herry.

Ia mengatakan, masyarakat membutuhkan polisi yang mampu memberikan rasa aman dan ketenteraman. Selain itu, personel juga dituntut hadir dengan cepat ketika masyarakat membutuhkan bantuan.

"Yang pertama yang kita lihat memberikan rasa aman, ketenteraman di masyarakat. Yang kedua, polisi harus bisa hadir secara cepat ketika masyarakat membutuhkan. Quick respons-nya berapa, berapa detik, berapa menit," ujarnya.

Namun, bagi Herry, tantangan Polri di Riau tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat. Ada persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama, terutama deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang setiap tahun.

"Yang utama adalah di Riau ini ada masalah lingkungan yang terus terdegradasi karena kita tidak bersama-sama untuk menjaga alam. Degradasi lingkungan ada dua, deforestasi dan karhutla yang terus-menerus," katanya.
 



Herry mempertanyakan sampai kapan persoalan asap akibat karhutla terus berulang dan menjadi persoalan tahunan. Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya berdampak terhadap kesehatan dan lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap citra Riau.

"Apakah kita tidak bosan? Tiap saat, tiap tahun kita mengirim udara yang tidak sehat. Apakah kita tidak bosan tiap tahun kita apel deploy pasukan?" ujarnya.


Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan mendorong pendekatan ekologis dan gerakan menanam pohon untuk menjaga lingkungan. (Foto: Ist)

Karena itu, ia mendorong pendekatan ekologis dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Salah satunya melalui gerakan menanam pohon yang dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga lingkungan.

"Menanam pohon bukan untuk memadamkan api di 2027. Menanam pohon di 2026 bukan memadamkan api di 2028 bahkan 2030. Tetapi insyaallah kita akan merasakan 20 tahun atau 15 tahun setelah kita menanam pohon secara serentak," jelasnya.

Kapolda juga mendorong pemerintah daerah memperkuat regulasi lingkungan, termasuk kewajiban dan sanksi dalam menjaga kelestarian alam. Bahkan, kebiasaan menanam pohon diharapkan dapat ditanamkan sejak usia sekolah.

"Bagaimana kewajiban kepada kita semua untuk bisa dalam hidupnya membuat atau menanam 20 sampai 25 pohon," katanya.

Dalam konteks tersebut, Herry menilai Polantas memiliki posisi strategis. Setiap hari personel lalu lintas bersentuhan langsung dengan masyarakat sehingga ruang tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan edukasi, termasuk kepedulian terhadap lingkungan.

"Polisi lalu lintas harus bisa juga memberikan pencerahan di lingkungan sepanjang jalan," ujarnya.
 
Ia mencontohkan program Polantas Go to School yang selama ini menjadi sarana edukasi keselamatan berlalu lintas. Menurutnya, program tersebut dapat diperluas dengan memasukkan pesan kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda.

"Dulu atur lalu lintas, sekarang atur lalu lintas anak-anak kita, anak-anak TK, SD terutama," tegas Herry.

Sementara itu, Dirlantas Polda Riau Kombes Pol Jeki Rahmat Mustika mengatakan, perjalanan 71 tahun Korps Lalu Lintas Polri harus menjadi energi untuk menghadapi tantangan pelayanan di masa mendatang.

"71 tahun merupakan perjalanan panjang pengabdian Korps Lalu Lintas Polri. Tiap tanggal 22 September kita memperingati perjalanan fungsi lalu lintas yang terus beradaptasi dalam kehidupan yang kian maju," kata Jeki.


Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menyerahkan penghargaan dalam rangkaian peringatan HUT ke-71 Lalu Lintas Bhayangkara. (Foto: Ist)

Ia menegaskan, sejarah panjang Korps Lalu Lintas tidak boleh sekadar menjadi catatan masa lalu, tetapi harus menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

"Sejarah tidak boleh berhenti sampai di sini. Sejarah harus menjadi energi untuk masa depan," ujarnya.

Jeki mengatakan, Polantas harus mampu menjalankan tugas secara profesional sekaligus menghadirkan pelayanan yang humanis. Kehadiran polisi di tengah masyarakat harus mampu mendengar, memahami dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Polantas harus menjadi profesional sekaligus untuk pelayanan. Polantas harus hadir sebagai wujud masyarakat mendengar, memahami dan memberikan solusi," katanya.
 

Ia juga mengajak jajaran lalu lintas memperkuat kolaborasi dengan berbagai komunitas pengguna jalan, mulai dari pengemudi ojek daring, angkutan umum, angkutan barang dan logistik, komunitas otomotif, dunia pendidikan hingga masyarakat luas.

Menurut Jeki, kelompok tersebut bukan sekadar objek dalam kebijakan lalu lintas, melainkan mitra penting dalam membangun budaya keselamatan berlalu lintas.

"Mereka bukan sekadar objek, tapi juga mitra dan subjek untuk mewujudkan keselamatan berlalu lintas," tegasnya.


Jajaran Polantas bersama sejumlah penerima penghargaan dalam rangkaian HUT ke-71 Lalu Lintas Bhayangkara di Pekanbaru. (Foto: Ist)

Momentum HUT ke-71 Lalu Lintas Bhayangkara, lanjutnya, diharapkan semakin memperkuat sinergi antara Polantas dan masyarakat. Dengan pelayanan yang profesional, humanis dan berintegritas, Polantas diharapkan mampu terus hadir menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya lalu lintas yang presisi.

"Mari kita jadikan Hari Ulang Tahun Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 ini sebagai momentum untuk memperkuat sinergi, meningkatkan kualitas pelayanan, mewujudkan integritas, mewujudkan lantas yang presisi, untuk mewujudkan Indonesia Emas dan Indonesia yang bermartabat," tutup mantan Kapolresta Pekanbaru itu.

(Patrick Pinaria)