Rupiah Sore Ini Menguat ke Rp17.748 per USD, Ini Pendorongnya

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Rupiah Sore Ini Menguat ke Rp17.748 per USD, Ini Pendorongnya

Ade Hapsari Lestarini • 20 August 2026 17:29

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis menguat 92 poin atau 0,52 persen menjadi Rp17.748 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.840 per USD.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis juga menguat ke level Rp17.779 per USD dari sebelumnya Rp17.844 per USD.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah dipengaruhi respons positif pasar terhadap rencana pemangkasan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan pada 2027.

"Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM pertalite," ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 20 Agustus 2026.

Pengurangan subsidi BBM dinilai menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mengendalikan subsidi. Dengan pemangkasan kuota hingga 58,5 persen, lanjut Ibrahim, masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi berpotensi menghadapi pengetatan akses terhadap BBM subsidi.


Ilustrasi. Foto: Magnific.
 

Asumsi harga minyak mentah Indonesia USD75 per barel pada 2027


Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar USD75 per barel pada 2027, masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran USD83 per barel.

"Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari," ungkap Ibrahim.

Selain itu, sikap hati-hati investor masih membayangi pasar menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal II yang dijadwalkan pekan ini. Hal tersebut mengingat defisit pada kuartal I sempat melebar ke tingkat terbesar sejak 2019 akibat kinerja perdagangan yang melemah di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak mentah dunia terus menguat.

Dari sentimen global, Departemen Keuangan AS meningkatkan program pembelian kembali sekuritas jangka panjang untuk mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang dari level tertinggi dalam beberapa tahun.

"Imbal hasil acuan Treasury AS tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin (bps) dan imbal hasil tenor 30 tahun turun hampir sembilan basis poin setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan volume pembelian kembali (buyback) untuk mendukung likuiditas pada surat berharga pemerintah berjangka waktu lebih panjang," ujar dia.

(Ade Hapsari Lestarini)