Pemkab Bantul Siagakan Ribuan Pompa Air Hadapi Kemarau

Seorang warga menata hasil panen sorgum di lahan pertanian di Dusun Mojolegi, Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu, 2 Agustus 2026. ANTARA/Agung Dwi Prakoso

Pemkab Bantul Siagakan Ribuan Pompa Air Hadapi Kemarau

Silvana Febiari • 4 August 2026 09:14

Bantul: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menyiapkan ribuan unit pompa air dan sarana irigasi pendukung. Langkah ini dilakukan guna mencegah potensi gagal panen akibat musim kemarau.

Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengaku dampak musim kemarau terhadap lahan pertanian masih relatif terkendali dan belum ada laporan gagal panen dari petani.

"Gagal panen sementara ini kita belum ada laporan," kata Joko, dilansir dari Antara, Selasa, 4 Agustus 2026.
 


Pemkab Bantul mengandalkan lebih dari 4.000 unit pompa air yang dikelola gabungan kelompok tani (gapoktan) untuk menjaga kelancaran pasokan air irigasi.

Selain menyiagakan ribuan pompa, DKPP Bantul juga membangun sistem irigasi perpompaan (irpom) di 20 titik lokasi strategis. Termasuk 11 titik di Kecamatan Dlingo yang memiliki wilayah lahan kering terluas.

Keberadaan irpom sangat efektif membantu saat musim kemarau. Sebab, mampu memanfaatkan sumber air dari sungai-sungai yang ada di Kabupaten Bantul.

"Kita punya enam sungai di antaranya Winongo, Bedog, Opak dan termasuk daerah paling strategis dibanding daerah lainnya di DIY," ujarnya.


Ilustrasi kemarau. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.


Di samping kesiapan sarana fisik, Pemkab Bantul aktif menyosialisasikan mengenai langkah-langkah antisipasi gagal panen selama musim kemarau. Di antaranya penggunaan varietas padi umur pendek serta mengimbau petani di area krisis air.

"Kita sudah sosialisasi silakan yang tanam padi ya tanamnya yang jenis umur pendek," ungkapnya.

Apabila suatu wilayah mengalami keterbatasan air yang cukup parah, petani disarankan beralih menanam komoditas palawija. Sebab, kondisi tersebut tidak memungkinkan untuk penanaman padi.

(Silvana Febiari)