Waspada! Musim Kemarau di NTB Diprediksi Capai 8-9 Bulan

Hamparan lahan kosong ladang jagung di Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Petani membiarkan ladang jagung kosong saat musim kemarau akibat curah hujan yang sedikit. ANTARA/Ady Ardiansah

Waspada! Musim Kemarau di NTB Diprediksi Capai 8-9 Bulan

Whisnu Mardiansyah • 9 March 2026 13:48

Mataram: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau 2026 di Nusa Tenggara Barat (NTB) berlangsung lebih panjang dari kondisi normal. Durasi musim kemarau diperkirakan berkisar antara delapan hingga sembilan bulan.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nuga Putrantijo mengatakan durasi kemarau yang cukup panjang ini perlu diantisipasi bersama oleh masyarakat dan pemangku kepentingan.

"Kami perkirakan durasi dominan berkisar antara 25 sampai 27 dasarian atau sekitar delapan hingga sembilan bulan. Durasi kemarau cukup panjang, sehingga perlu diantisipasi bersama," kata Nuga dalam konferensi pers di Mataram seperti dilansir Antara, Senin, 9 Maret 2026.

Nuga menjelaskan sebanyak 84 persen wilayah Nusa Tenggara Barat mulai memasuki periode musim kemarau pada April 2026. Puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus 2026 dan terjadi di hampir seluruh wilayah dengan persentase sekitar 89-90 persen.
 


Nuga memaparkan tiga faktor utama yang memicu kondisi kemarau lebih kering dan berdurasi panjang di NTB. Pertama, fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang saat ini berada pada fase netral dan diperkirakan bertahan hingga pertengahan 2026. Faktor ini yang muncul pada semester kedua 2026 dapat memperkuat kondisi kemarau di NTB.

Kedua, muson Australia yang didominasi angin timuran yang membawa udara kering dari Australia. BMKG memprediksi muson aktif di wilayah Indonesia pada April 2026.

"Faktor pemicu kedua adalah muson Australia yang didominasi angin timuran yang membawa udara kering dari Australia. Kami prediksi muson aktif di wilayah Indonesia pada April 2026," papar dia.


Ilustrasi kekeringan. (MGN/Nur Soli)

Ketiga, kondisi suhu muka laut yang mempengaruhi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, khususnya NTB. Nuga mengungkapkan anomali suhu permukaan laut di sekitar wilayah Indonesia bagian Barat dan Selatan saat ini terpantau normal hingga lebih dingin, sehingga membatasi pertumbuhan awan hujan.

"Inilah tiga faktor utama yang menyebabkan NTB lebih kering dan durasi musim kemarau lebih panjang," pungkas dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)