Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS Bergerak Datar Jelang Rilis Data Inflasi
Eko Nordiansyah • 12 August 2026 08:38
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak datar pada Selasa, 11 Agustus 2026, karena pelaku pasar menahan diri menjelang rilis data inflasi yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Pergerakan dolar AS juga berlangsung di tengah kenaikan harga minyak setelah Iran menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka kembali sebelum AS memenuhi tuntutan Teheran.
Dikutip dari Investing, Rabu, 12 Agustus 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya relatif tidak berubah di level 99,82.
Pasar tunggu data inflasi AS
Perhatian pasar kini tertuju pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Juli yang dijadwalkan masing-masing dirilis pada Rabu dan Kamis.Data tersebut akan menjadi perhatian utama setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat lalu memicu perubahan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Para ekonom memperkirakan CPI umum dan CPI inti secara bulanan meningkat dibandingkan Juni. Namun, secara tahunan, kedua indikator tersebut diperkirakan sedikit melambat dari bulan sebelumnya.
Ekonom senior Interactive Brokers José Torres mengatakan inflasi inti berpotensi mencatat level terendah dalam 63 bulan apabila angkanya sedikit di bawah ekspektasi sebesar 2,4 persen.
"Inflasi inti bisa mencatatkan level terendah dalam 63 bulan besok jika angkanya sedikit di bawah ekspektasi pada level 2,4 persen," ujar Torres.
Menurut dia, perkembangan geopolitik juga menjadi faktor penting dalam membaca prospek inflasi dan kebijakan moneter AS.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Iran minta AS penuhi tuntutan
Di pasar energi, pelaku pasar masih memantau perkembangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Sejumlah pejabat AS sebelumnya menyatakan pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung, tetapi Teheran membantah klaim tersebut.Kedua negara juga menyampaikan pernyataan berbeda mengenai status jalur pelayaran strategis tersebut. AS menyatakan selat terbuka bagi pelayaran komersial, sedangkan Iran memperingatkan jalur tersebut masih praktis tertutup.
Ketidakpastian tersebut dan belum adanya terobosan dalam perundingan damai mendorong harga minyak naik dalam beberapa sesi terakhir, termasuk sekitar lima persen pada Senin.
Iran saat ini melakukan pembicaraan dengan Oman untuk menyusun kerangka pengelolaan Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut negosiasi tersebut telah memasuki tahap lanjut dan berada pada titik krusial.
Sementara itu, Bloomberg News melaporkan AS dan Iran hampir mencapai "semacam kesepakatan" terkait potensi perjanjian damai, mengutip Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif.
Menurut Kpler, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz juga melambat drastis. Data pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang terkonfirmasi melintas turun dari 15 kapal pada Jumat menjadi 11 kapal pada Sabtu dan hanya enam kapal pada Minggu.
Yen melemah, dolar Australia menguat
Beralih ke mata uang utama lainnya, yen Jepang sedikit melemah terhadap dolar AS pada Selasa. Yen kembali kehilangan sebagian penguatan yang diraih setelah intervensi besar-besaran pada bulan lalu.Pasangan USD/JPY naik 0,1 persen menjadi 159,31 dan semakin mendekati level psikologis 160.
Sementara itu, dolar Australia menguat 0,1 persen menjadi USD0,7059 setelah Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga kebijakan di level 4,35 persen sesuai ekspektasi pasar.
RBA memperingatkan gangguan pasokan minyak global dapat meningkatkan inflasi secara langsung maupun melalui kenaikan harga barang dan jasa lainnya.
"Menyusul tiga kali kenaikan target suku bunga acuan sejak awal tahun, kondisi keuangan kini menjadi lebih ketat dibandingkan sebelumnya, dan perekonomian tampak melambat sesuai perkiraan. Namun, inflasi masih terlalu tinggi," ungkap RBA.
Bank sentral Australia memperkirakan inflasi baru kembali ke kisaran titik tengah target pada akhir 2027 dan masih terdapat risiko kenaikan terhadap proyeksi tersebut.