Cap Go Meh Jakarta 2026 di Pancoran Chinatown Point Mall, Jakarta Barat. Foto: Metro TV/Aris Setya.
Reformasi Mengembalikan Identitas Utuh Warga Tionghoa
Fachri Audhia Hafiez • 27 August 2026 00:00
Jakarta: Era pemerintahan Presiden ke-3 RI B.J. Habibie, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai menjadi tonggak penting. Khususnya dalam memulihkan hak budaya serta jati diri masyarakat Tionghoa di Indonesia.
"Mereka mengembalikan budaya dan identitas jati orang Tionghoa menjadi bagian utuh dari bangsa ini," kata pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa Azmi Abubakar dalam Dialog Kebangsaan bertajuk "Mengenang Jejak Perjuangan Tokoh-Tokoh Tionghoa dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia" di Museum Hakka, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.
Azmi memaparkan bahwa pemulihan tersebut sangat bermakna setelah sejarah dan budaya Tionghoa sempat terabaikan akibat politik segregasi pada era kolonial Belanda serta kebijakan asimilasi di masa Orde Baru. Menurutnya, pemisahan kebijakan masa lalu sempat membatasi pemahaman publik terhadap kontribusi warga Tionghoa.
"Ya, kita tahu semenjak masa kolonial Belanda sejarah dan budaya Tionghoa ditutupi. Masyarakat Tionghoa dengan masyarakat setempat yang sudah ratusan tahun berbaur dipisah," ucap Azmi.
Ia menuturkan, politik segregasi Belanda membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial. Kondisi tersebut kemudian berlanjut pada era Orde Baru melalui kebijakan asimilasi yang mendorong warga Tionghoa menanggalkan identitas budaya mereka.
"Kita tahu politik segregasi Belanda, ada kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Pun kemudian kita tahu pada suatu masa Orde Baru orang-orang Tionghoa bukan hanya dipisah dengan saudaranya, tapi identitas Tionghoa dilenyapkan. Orang Tionghoa harus menanggalkan segala identitas sejarah budayanya untuk menjadi orang lain," tegas Azmi.

Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa Azmi Abubakar. Foto: Dok. Istimewa.
Lebih lanjut, Azmi menyoroti pentingnya mengenalkan kembali rekam jejak perjuangan tokoh-tokoh Tionghoa dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, pejuang Tionghoa yang terlibat secara fisik dan militer hadir di berbagai daerah, namun belum banyak tercatat dalam narasi pendidikan sejarah umum.
"Masyarakat luas harus tahu bahwa pejuang-pejuang Tionghoa secara fisik, secara militer ada di setiap daerah. Jika masyarakat luas tahu bahwa ternyata orang Tionghoa juga ikut berjuang, mengangkat senjata, tentu cara pandang akan berubah. Yang ada hanya rasa kekaguman," kata Azmi.