Politikus perempuan sekaligus putri Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yenny Wahid di Jombang, Jawa Timur. Yenny hadir dalam kegiatan Muktamar Ke-35 NU, 27-31 Agustus 2026. ANTARA/ Asmaul
Yenny Wahid Minta Kekecewaan di Muktamar NU Diselesaikan Lewat Musyawarah
Whisnu Mardiansyah • 31 August 2026 06:42
Jombang: Putri Gus Dur Yenny Wahid menyoroti aksi demonstrasi yang disertai kemarahan dan perusakan fasilitas dalam dinamika Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur. Menurutnya, tindakan tersebut tidak sejalan dengan tradisi NU yang mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan.
"Sebetulnya demonstrasi, lalu kemudian chaos, marah-marah itu bukan kulturnya NU. Kultur NU itu musyawarah. Semua hal, semua perbedaan seyogianya dimusyawarahkan," kata Yenny di Jombang, Jawa Timur, seperti dilansir Antara, Minggu, 31 Agustus 2026.
Yenny menyampaikan pandangan tersebut merespons sejumlah dinamika yang terjadi selama Muktamar Ke-35 NU, termasuk aksi demonstrasi dan ketegangan setelah muncul keputusan dalam forum muktamar.
Ia meminta pihak yang tidak puas terhadap keputusan muktamar menerima hasil pembahasan yang telah disepakati para muktamirin. Kekecewaan, menurutnya, tidak semestinya disalurkan melalui tindakan anarkis maupun perusakan fasilitas.
"Kalau ada yang kecewa dengan hasil keputusan bukan kemudian dengan cara ngamuk-ngamuk, merusak fasilitas, merusak AC dan lain sebagainya. Itu bukan caranya NU," ujar putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut.
Yenny turut menanggapi ketentuan mengenai masa idah politik yang menjadi bagian dari dinamika Muktamar Ke-35 NU. Ia menilai ketentuan tersebut perlu diterima setelah menjadi bagian dari kesepakatan dalam forum muktamar.
Menurut Yenny, penerapan masa idah politik diperlukan untuk menjaga jarak organisasi dengan partai politik. Posisi tersebut dinilai penting agar NU tetap terhindar dari kepentingan politik praktis dan dapat mempertahankan sikap netral terhadap seluruh partai politik.
"NU tetap netral, NU berada di atas semua partai politik, NU itu politiknya kebangsaan," kata Yenny.
Ia menambahkan, politik kebangsaan NU semestinya berorientasi pada kepentingan masyarakat dan bangsa. Fokus tersebut mencakup upaya menjaga persatuan dan kesatuan serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
.jpeg)
Muktamar ke-35 NU. Foto: Dok. Metro TV.
Mengenai pembentukan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Yenny berharap para kiai yang terpilih mampu menghasilkan keputusan terbaik dalam menentukan Rais Aam dan proses pemilihan Ketua Umum PBNU periode mendatang.
"Semua alim, semuanya fakih. Kita tentu menaruh harapan besar bahwa beliau-beliau itu kemudian bisa mengambil keputusan yang paling pas dalam memilih Rais Aam maupun memilih kandidat ketua umum ke depannya nanti," katanya.
Yenny juga mengajak para muktamirin dan seluruh pihak yang mengikuti Muktamar Ke-35 NU untuk menerima serta menghormati keputusan para ulama.
Menurutnya, sikap tersebut diperlukan demi keberlangsungan NU dalam menghadapi berbagai tantangan pada abad kedua organisasi.