Laporan Financial Times menyebut serangan yang menewaskan Khamenei didukung intelijen bertahun-tahun dan rudal presisi jarak jauh. (Anadolu Agency)
Serangan yang Tewaskan Khamenei Libatkan Penggunaan Rudal Presisi
Willy Haryono • 3 March 2026 07:58
London: Serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merupakan hasil operasi intelijen yang berlangsung selama bertahun-tahun, menurut laporan media Financial Times asal Inggris yang mengutip pejabat intelijen saat ini dan mantan pejabat.
Dikutip dari Anadolu Agency, Selasa, 3 Maret 2026, laporan tersebut menyebut Israel menyimpulkan keberadaan Khamenei di kompleksnya melalui kombinasi intelijen sinyal dan konfirmasi dari sumber manusia yang berasal dari Amerika Serikat.
Pesawat jet tempur Israel yang telah berada di udara selama beberapa jam kemudian menembakkan sekitar 30 amunisi presisi ke kompleks tersebut.
Rudal yang digunakan dilaporkan merupakan jenis Sparrow yang mampu menyerang target kecil dari jarak lebih dari 1.000 kilometer, di luar jangkauan efektif sistem pertahanan udara Iran.
Serangan dilakukan pada siang hari, yang disebut militer Israel sebagai langkah untuk menciptakan kejutan taktis.
Pada pagi hari sebelum serangan, Israel juga dilaporkan mengganggu sekitar 12 menara telepon seluler di sekitar kompleks Khamenei, sehingga detail pengamanan tidak menerima peringatan dini.
Operasi Intelijen Jangka Panjang
Laporan tersebut menyebut keberhasilan serangan juga dipengaruhi oleh kurangnya langkah pengamanan dari pihak Iran.Seorang sumber menyatakan bahwa jika Khamenei berada di salah satu bunker bawah tanahnya, Israel kemungkinan tidak dapat menjangkaunya.
Financial Times juga melaporkan bahwa Israel memiliki akses ke kamera lalu lintas di Teheran, termasuk yang mengarah ke kompleks Khamenei, untuk memantau pergerakan di sekitar lokasi.
Selain itu, Israel menggunakan metode analisis jaringan sosial untuk memetakan struktur hubungan dan pengambilan keputusan di pemerintahan Iran.
Operasi gabungan AS dan Israel yang dimulai Sabtu lalu telah menewaskan sejumlah pejabat Iran dan memicu serangan balasan ke negara-negara Teluk. Sejak operasi dimulai, enam personel militer AS dilaporkan tewas dalam konflik yang terus meluas di kawasan tersebut.
Baca juga: IRGC Tegaskan Musuh-Musuh Iran Tak Akan Lagi Aman usai Kematian Khamenei