Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Eko Nordiansyah
Rupiah Melemah ke Rp16.922 per USD
Eko Nordiansyah • 4 March 2026 09:17
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah melemah atas dolar AS yang mengalami penguatan di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 4 Maret 2026, rupiah berada di level Rp16.922 per USD. Mata uang Garuda tersebut jatuh 50 poin atau setara 0,30 persen dari Rp16.872 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.865 per USD. Mata uang Garuda melemah dibandingkan pada pembukaan perdagangan pagi kemarin sebesar Rp16.843 per USD.
Rupiah fluktuatif cenderung melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah pada hari ini. Ia memproyeksikan mata uang Garuda bergerak di rentang Rp16.870 per USD hingga Rp16.910 per USD.Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen perang udara AS dan Israel terhadap Iran yang meluas dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas melalui serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
"Kekhawatiran tentang transit di jalur air tersebut meningkat setelah media Iran melaporkan bahwa seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan Iran akan menembak kapal mana pun yang mencoba melewatinya. Sekitar 20 persen minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz," ungkap Ibrahim.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang AS dan Israel melawan Iran mungkin membutuhkan beberapa waktu tetapi tidak akan memakan waktu bertahun-tahun. Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang sementara pasar fokus pada dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, pasar juga tengah memperhatikan pernyataan pejabat The Fed dengan Presiden Fed New York John Williams, Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid, dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari. Pernyataan yang cenderung agresif dari para pejabat Fed dapat memperkuat dolar AS .
"Fokus pasar minggu ini adalah data pasar tenaga kerja AS, termasuk Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat membentuk ekspektasi untuk jalur kebijakan moneter Fed. Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi tetap tinggi, mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada pelonggaran kebijakan moneter jangka pendek," papar Ibrahim.
(1).jpg)