6 Tragedi Penerbangan Akibat Abu Vulkanik

Pesawat World Airways DC10 terbalik karena berat abu vulkanik. (Dok. USGS)

6 Tragedi Penerbangan Akibat Abu Vulkanik

Riza Aslam Khaeron • 10 September 2026 21:33

Jakarta: Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi beruntun selama 25 jam, mulai Jumat, 4 September pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September pukul 00.04 WIB. Ketika erupsi masih berlangsung, gunung tersebut menyebarkan abu vulkanik dari Bengkulu di Pulau Sumatra hingga Bandung di Jawa.

Kala itu, sejumlah bandara harus ditutup sementara, seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta di DKI Jakarta, karena abu vulkanik dapat mengganggu aktivitas penerbangan.

Beruntung, tidak ada tragedi penerbangan akibat abu vulkanik saat peristiwa tersebut terjadi. Meski demikian, sejarah penerbangan dunia mencatat sejumlah insiden berbahaya yang disebabkan oleh paparan abu vulkanik. Berikut 6 tragedi di antaranya:

1. KLM Flight 867, Gunung Redoubt (1989)

Salah satu insiden abu vulkanik paling serius terjadi pada KLM Flight 867 yang membawa 231 penumpang pada 15 Desember 1989. Kala itu, pesawat Boeing 747-400 tersebut sedang terbang menuju Anchorage, Alaska, ketika tanpa sengaja masuk ke dalam awan abu hasil erupsi Gunung Redoubt.

Menurut United States Geological Survey (USGS), abu tersebut telah terbawa angin hingga sekitar 240 kilometer dari puncak gunung. Ketika pesawat menembus awan abu tersebut, keempat mesinnya mengalami flameout atau mati secara bersamaan.

Pesawat sempat meluncur bebas dan kehilangan ketinggian dari 27.900 kaki menjadi 13.300 kaki sebelum awak kabin berhasil menghidupkan kembali seluruh mesin. Boeing 747 tersebut akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di Anchorage.

Kendati seluruh penumpang selamat, kerusakan fisik pada pesawat sangat parah. USGS mencatat biaya perbaikan mencapai sekitar US$80 juta, termasuk biaya penggantian untuk keempat mesinnya.
 

2. Sejumlah Boeing 747 dan DC-10, Gunung Pinatubo (1991)

Erupsi dahsyat Gunung Pinatubo di Filipina pada Juni 1991 memicu salah satu rangkaian insiden pesawat akibat abu vulkanik terbesar yang pernah didokumentasikan.

USGS mencatat terdapat 16 pertemuan berbahaya antara pesawat jet dan awan abu Pinatubo dari erupsi tanggal 12 dan 15 Juni. Sebagian pesawat bahkan berpapasan dengan abu pada jarak yang sangat jauh, yakni sekitar 720 hingga 1.740 kilometer dari gunung.

Salah satu pesawat, Boeing 747-300, berada di dalam awan abu selama sekitar tiga menit pada 12 Juni. Setelah mendarat di Manila, keempat mesinnya menunjukkan getaran yang sangat kuat sehingga seluruh mesinnya harus diganti.

Dalam kejadian lain pada 17 Juni, sebuah Boeing 747-200B yang terbang dari Johannesburg menuju Taipei memasuki awan abu pada ketinggian 37.000 kaki. Mesin nomor satu mengalami surge dan harus dimatikan, sedangkan mesin nomor empat kehilangan tenaga. Pesawat merosot hingga ketinggian 29.000 kaki sebelum mesin berhasil dinyalakan kembali dan mendarat dengan selamat.

Secara keseluruhan, USGS mencatat sedikitnya 10 mesin pesawat rusak berat dan harus diganti akibat paparan abu Gunung Pinatubo.
 

3. Sabena Airlines DC-10, Gunung Augustine (1986)


Awan abu vulkanik ketika erupsi Gunung Augustine tahun 1986. (Dok. Smithsonian Institution)

Pada 29 Maret 1986, sebuah DC-10 milik Sabena Airlines menghadapi situasi krisis saat melakukan pendekatan untuk mendarat di Bandara Anchorage, Alaska.

Pesawat melakukan descent atau turun dari ketinggian menuju bandara ketika ruang udara sekitar masih terselimuti abu sisa erupsi Gunung Augustine. Kondisi saat itu dilaporkan sangat buruk dengan jarak pandang mendekati nol.

Berdasarkan Smithsonian Institution, abu vulkanik menyebabkan abrasi parah pada kaca depan kokpit serta merusak sejumlah komponen turbin mesin. Meskipun mengalami kendala navigasi dan jarak pandang, pesawat DC-10 tersebut berhasil mendarat. Peristiwa ini membuat aktivitas penerbangan di Anchorage terganggu selama beberapa hari.
 

4. Japan Airlines, Gunung Augustine (1976)

Di lokasi yang sama pada dekade sebelumnya, tepatnya pada Januari 1976, tiga pesawat Japan Airlines yang terbang dari Anchorage menuju Tokyo bertemu dengan awan abu erupsi Gunung Augustine. Armada tersebut terdiri atas DC-8 kargo, DC-8 penumpang, dan Boeing 747.

Japan Airlines Flight 672 yang menggunakan DC-8 kargo memasuki awan abu ketika sedang naik menuju ketinggian jelajah sekitar 33.000 kaki.

Setibanya di Tokyo, hasil pemeriksaan menunjukkan kaca tengah kokpit mengalami pengikisan berat sehingga harus diganti. Kerusakan akibat gesekan abu juga ditemukan pada perangkat radio eksternal, landing gear, serta sistem pendingin udara (air conditioning) pesawat. Dua pesawat Japan Airlines lainnya turut mengalami kerusakan ringan.

Dalam peristiwa erupsi yang sama, dua jet tempur F-4E milik Angkatan Udara Amerika Serikat juga tidak sengaja melintasi awan abu. Akibatnya, kanopi pesawat terkikis dan cat pada ujung sayap terkelupas seperti habis diterjang sandblasting.
 

5. Toa Domestic Airlines DC-9, Gunung Sakurajima (1986)

Jepang memiliki sejarah panjang gangguan penerbangan akibat Gunung Sakurajima yang sangat aktif. Pada 24 Juni 1986, sebuah pesawat DC-9 milik Toa Domestic Airlines yang mengangkut 152 penumpang dan 6 awak menembus awan erapan material Sakurajima pada ketinggian sekitar 1.200 meter.

Pesawat memasuki awan tersebut hanya sekitar 23 menit setelah material letusan dilontarkan dari kawah. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat kaca kokpit dan bagian depan sayap pesawat mengalami goresan yang sangat dalam.

Pesawat yang terbang dari Fukuoka tersebut berhasil mendarat dengan selamat di Kagoshima. Gunung Sakurajima tercatat berulang kali merusak pesawat terbang. Smithsonian mencatat sejumlah armada L-1011 milik All Nippon Airways pernah mengalami retak kaca depan akibat terhantam material vulkanik Sakurajima pada tahun 1975, 1977, 1978, dan 1979.
 

6. F-18 Finlandia, Erupsi Eyjafjallajokull (2010)

Erupsi Eyjafjallajokull di Islandia pada 2010 menjadi salah satu peristiwa paling fenomenal karena melumpuhkan lalu lintas udara di Eropa. Ribuan penerbangan dibatalkan setelah sebaran abu vulkanik menutupi jalur penerbangan Eropa dan Atlantik Utara.

Bahaya abu ini juga berdampak pada armada militer. Angkatan Udara Finlandia melaporkan kerusakan mesin pada pesawat tempurnya, yang melibatkan lima jet tempur F-18 Hornet yang terbang melintasi wilayah terkontaminasi abu pada 15 April 2010.

Hasil pemeriksaan teknis memperlihatkan bahwa abu vulkanik yang meleleh telah menempel dan mengeras pada bagian dalam mesin.
 

Mengapa Abu Vulkanik Sangat Berbahaya bagi Pesawat?

Bahaya utama abu vulkanik terhadap pesawat jet berasal dari sifat partikelnya yang sangat halus namun amat abrasif. Ketika menabrak pesawat dalam kecepatan tinggi, abu dapat mengikis kaca kokpit, lampu navigasi, permukaan badan pesawat, bilah kompresor, hingga sensor-sensor navigasi.

Ancaman yang jauh lebih fatal terjadi ketika partikel abu masuk ke dalam ruang bakar mesin. Suhu internal mesin jet yang sangat tinggi sanggup melelehkan material silikat dalam abu vulkanik, yang kemudian membeku kembali dan menempel pada bagian dalam komponen mesin.

"Hal ini menyumbat lubang pendingin dan menghambat aliran udara di dalam mesin, yang pada akhirnya dapat menyebabkan hilangnya tenaga mesin. Abu vulkanik bersifat sangat abrasif, sehingga memicu kerusakan pada bilah kompresor dan bagian lain di dalam mesin," ungkap Peneliti Utama Riset Propulsi Terpadu Wahana (VIPR) NASA, Cleveland, Ohio, John Lekki, mengutip laman resmi NASA.

Kondisi penumpukan kerak silikat tersebut dapat memicu penurunan tenaga secara drastis hingga kematian mesin (flameout).

Berdasarkan panduan Federal Aviation Administration (FAA), prosedur utama ketika menghadapi bahaya erupsi tentunya adalah menghindari kontak langsung dengan awan abu. Tantangannya, awan abu sering kali tidak dapat dibedakan dari awan biasa secara visual dan umumnya tidak terdeteksi oleh radar cuaca standar yang terpasang pada pesawat.

Menurut data kompilasi USGS periode 1953–2009, terdapat 94 insiden pertemuan pesawat dengan abu vulkanik yang terkonfirmasi. Dari jumlah tersebut, 79 insiden menyebabkan kerusakan pada mesin atau struktur pesawat. Sebanyak 26 kasus dikategorikan menimbulkan kerusakan berat hingga sangat parah, dan sembilan kasus di antaranya menyebabkan mesin pesawat mati saat terbang. Hingga saat ini, belum ada insiden penerbangan akibat abu vulkanik yang menelan korban jiwa.

(Riza Aslam Khaeron)