Pencarian 5 Jurnalis, Basarnas: Aktivitas Anak Krakatau Jadi Pertimbangan

Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu, 9 September 2026. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU/am.

Pencarian 5 Jurnalis, Basarnas: Aktivitas Anak Krakatau Jadi Pertimbangan

Lukman Diah Sari • 15 September 2026 17:05

Pandeglang: Basarnas mengungkapkan potensi kerentanan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi pertimbangan khusus tim SAR gabungan dalam operasi pencarian hari kedelapan, Selasa, 115 September 2026, terhadap rombongan jurnalis dan kru kapal cepat di Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten Rizky Dwianto menyampaikan, hasil rapat evaluasi bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengindikasikan bahwa meski erupsi belum terjadi, akumulasi energi dari aktivitas vulkanik dangkal Gunung Anak Krakatau berpotensi memicu erupsi lebih besar dari yang sebelumnya.

"Hal-hal ini yang perlu antisipasi demi keselamatan tim SAR gabungan dalam melaksanakan pencarian," katanya di Posko Utama SAR Nasinal, Pantai Carita, Pandeglang, Selasa, 15 Agustus 2026.

Dia memastikan pergerakan tim SAR dilakukan semua atas pemantauan ketat terhadap aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang diselaraskan berdasarkan rekomendasi berkala dari PVMBG.

"Informasi perihal aktivitas Gunung Anak Krakatau yang bersumber dari PVMBG kami jadikan pedoman. Pengamatan visual menunjukkan gunung tertutup kabut, sementara pengamatan kegempaan mencatat terjadi gempa vulkanik dangkal dengan tremor secara terus-menerus," katanya.

Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten, Rizky Dwianto. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Selain itu data analisis cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga jadi rujukan. Dalam hal ini dilaporkan kondisi cuaca di perairan Selat Sunda terpantau berawan dengan tinggi gelombang mencapai 0,5 hingga 2,5 meter mengarah ke timur laut, serta kecepatan angin berkisar 5-20 knot bergerak dari tenggara ke selatan.

Adapun berdasarkan peta rencana operasi SAR hari kedelapan ini, tim SAR gabungan melakukan penyisiran di lima sektor pencarian laut dengan total luas area sekitar 3.962 mil laut persegi. Pencarian melibatkan sejumlah armada unsur utama, antara lain KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KN SAR Antasena, KRI Gilimanuk, KRI Leuser, KRI Lepu, KRI Kerambit, KAL Anyer, KAL Pahowang, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, RBB Pulau Peucang, serta sejumlah kapal KP Polairud.

Sektor A dengan luas 1.026 mil laut persegi akan dilakukan oleh KRI Gilimanuk dan KRI Leuser. Sektor B seluas 780 mil laut persegi melibatkan KN SAR Antasena dan KP Sanjaya. Selanjutnya, sektor C dengan luas 825 mil laut persegi akan disisir oleh KN SAR Tetuka, KRI Lepu, dan KRI Kerambit.

Pada sektor D seluas 872 mil laut persegi, pencarian melibatkan KN SAR Basudewa, RIB 02 Lampung, KAL Anyer, dan KAL Pahowang. Sementara itu, sektor F dengan luas 459 mil laut persegi akan dilakukan oleh RIB 02 Banten, RBB Pulau Peucang, sejumlah kapal KP Polairud, serta unsur pendukung lainnya.

Sebelumnya Pusat Pengendalian Operasi Basarnas melaporkan kapal cepat yang membawa rombongan jurnalis bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin, 7 September 2026, pukul 14.00 WIB untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Ada delapan orang dalam pencarian terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas (Kantor Berita ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews), Firdaus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas). Sedangkan tiga lainnya, yakni Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), serta Heriyanto (pemandu).

Komunikasi terakhir mencatat korban sempat mengirimkan lokasi terkini kepada rekan jurnalis di Lampung, Senin, 7 September 2026, pukul 14.42 WIB, namun akhirnya hilang kontak pada pukul 15.04 WIB di titik koordinat sekitar 6°14'40.52"S dan 105°40'49.48"T.

(Lukman Diah Sari)