Ada Tiga Pilihan bagi Kemenkeu untuk Kelola Fiskal Negara

Chatib Basri. Foto: Metrotvnews.com/Adrian Bachtiar.

Ada Tiga Pilihan bagi Kemenkeu untuk Kelola Fiskal Negara

Ade Hapsari Lestarini • 9 June 2026 20:18

Jakarta: Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan RI Chatib Basri menyebut tugas Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada dasarnya hanya memiliki tiga pilihan dalam mengelola fiskal negara, yakni menaikkan pendapatan, memangkas pengeluaran, atau menambah utang.

"Karena tugas dari Menteri Keuangan itu sebetulnya sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga: naikkan, potong, pinjam," kata Chatib dalam Grab Business Forum 2026, di Shangri-La Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.

Namun, menurut Chatib, opsi menaikkan pendapatan maupun menambah utang saat ini tidak mudah dilakukan. Oleh karena itu, langkah yang paling realistis adalah melakukan penghematan belanja negara secara selektif.

"Opsi yang paling mungkin itu adalah opsi tiga. Cut the spending selectively. Jadi, solusinya adalah fiskal pembelian harus dirasionalisasi untuk membalas isu itu (ketidakpastian ekonomi negara)," kata Chatib.

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia positif


Chatib menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 masih cukup baik. Kinerja tersebut ditopang konsumsi rumah tangga yang terdorong momentum Ramadan dan Idulfitri, serta tingginya belanja pemerintah.

"Karena kalau dilihat pada kuartal pertama, household consumption-nya itu masih relatif lumayan. Didorong oleh Lebaran atau puasa pada waktu itu," ungkap Chatib.

Chatib memperkirakan pertumbuhan belanja pemerintah pada kuartal-kuartal berikutnya tidak akan setinggi awal tahun.

"Sehingga mungkin di kuartal dua, tiga, dan empat, pertumbuhan belanja pemerintah tidak mungkin mencapai 21,2 persen," jelas dia.
   

Faktor rupiah turun


Dalam kesempatan sama, Chatib juga menanggapi pandangan yang menyebut kondisi rupiah masih baik-baik saja. Menurut dia, kondisi nilai tukar tidak bisa dijelaskan hanya melalui narasi, tetapi harus didukung data.

"Karena rupiah itu bisa dijelaskan dengan credit default swap (CDS). Yang menarik, CDS mulai melemah sebelum perang. Kalau kemudian ada yang bilang penyebabnya adalah perang, that's not true," ujar dia.

Menurut dia, risiko kredit suatu negara menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Oleh karena itu, indikator CDS dapat memberikan sinyal awal terhadap tekanan yang berpotensi terjadi pada mata uang.


 

Kondisi saat ini tidak sama dengan krisis 1998


Chatib menanggapi, anggapan yang menyamakan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis 1998. Chatib menegaskan situasinya berbeda karena kelompok masyarakat berpendapatan menengah atas telah melakukan langkah antisipasi terhadap potensi pelemahan ekonomi maupun depresiasi rupiah.

Menurut dia, perhatian justru perlu diberikan kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang paling terdampak kenaikan harga kebutuhan pokok.

"Di kelompok menengah atas, depresiasi rupiah sudah diantisipasi sejak lama. Mereka yang punya anak sekolah di luar negeri sudah menempatkan dananya dalam dolar," tutur Chatib. (Adrian Bachtiar)

(Ade Hapsari Lestarini)